Sabtu, 25 Agustus 2012

Liturgy as a Spiritual Battlefield



"We are now in the late stages of the long and vicious war against the human heart... In fact, this is where many people feel abandoned or betrayed by God. They thought that becoming a Christian would somehow end their troubles, or at least reduce them considerably. No one ever told them they were being moved to the front lines, and they seem genuinely shocked at the fact that they've been shot at."
(Wild at Heart - Chapter 5: The Battle for a Man's Heart)

Apa yang terbersit di benak kita ketika mendengar kata "liturgi?"
Apakah tata urutan yang merepotkan? Pernak-pernik yang tidak dikenal namanya? Sesuatu yang sulit dan kaku?
Tapi, apakah terbersit di benak kita bahwa liturgi adalah sebuah medan perang?

Santo Paulus mengatakan bahwa "perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12)

Dibaptis menjadi anggota Gereja berarti dibaptis untuk menjadi bagian dari sebuah korps garis depan.
Kita menjadi dinding yang melindungi sesuatu...
Siapa yang kita lindungi? Dunia. Seluruh ciptaan. Manusia. Manusia-manusia lain yang bahkan tidak tahu atau perduli Tuhan itu ada. Orang-orang sekitar kita yang kita tidak tahu dari mana datangnya dan kemana perginya. Orang-orang yang lebih kelihatan seperti musuh daripada sekutu... tetapi yang kekudusannya sebagai "gambar dan rupa Allah harus kita akui."

Dalam tradisi Yahudi, dikatakan bahwa pada setiap zaman Allah membangkitkan orang-orang benar yang karena keberadaan mereka, menopang seluruh dunia sehingga tidak punah. Mengingatkan kita akan kisah Abraham yang bersyafaat bagi Sodom dan Gomora.

Kita ibaratnya orang-orang Lewi yang disisihkan untuk pengudusan Israel, yang maju berperang paling depan membawa Tabut Perjanjian. Gereja adalah kerajaan kaum imam, nabi dan raja yang membawa dunia kepada Allah sekaligus menjadi pasukan garis depan yang membentengi dunia. 

Namun, seperti apa rupa peperangan ini?
Kalau kita jeli membaca Kitab Suci ada hubungan yang sangat istimewa antara peperangan umat Allah dengan liturgi.

Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan bebarapa contoh dimana Liturgi mengambil peranan sentral dalam peperangan dan kemenangan umat Allah. 

Tidak bisa dilupakan pembebasan umat Israel dari Mesir yang dilaksanakan dalam konteks perayaan Paskah yang dirayakan turun-temurun dan menemukan penggenapannya dalam Paskah Perjanjian Baru (Keluaran 12:1-20).

Kisah penaklukan kota Yerikho juga sangat kita kenal, bagaimana tembok kota Yerikho runtuh ketika umat Israel berliturgi mengelilingi kota itu (Yosua 5:2-24).

Tetapi tidak ada gambaran yang lebih jelas daripada gambaran yang diberikan oleh Kitab Wahyu, yang merupakan Kitab Liturgi Perjanjian Baru.
Yohanes melihat sebuah Liturgi Surgawi, yang menjadi ajang penghakiman dan pertempuran. Sangkakala dibunyikan, anggur kemurkaan ditumpahkan, api dilemparkan ke bumi, darah dicurahkan dan musuh dihancurkan.

Dalam Kitab Wahyu kita melihat Yesus yang digambarkan sebagai Ksatria Perkasa, Pemenang Jaya, Raja Mulia yang jarang kita lihat dalam Injil:
"Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: 'Yang Setia dan Yang Benar,' Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: 'Firman Allah.' Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa. Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: 'Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.' Lalu aku melihat seorang malaikat berdiri di dalam matahari dan ia berseru dengan suara nyaring kepada semua burung yang terbang di tengah langit, katanya: 'Marilah ke sini dan berkumpullah untuk turut dalam perjamuan Allah, perjamuan yang besar, supaya kamu makan daging semua raja dan daging semua panglima dan daging semua pahlawan dan daging semua kuda dan daging semua penunggangnya dan daging semua orang, baik yang merdeka maupun hamba, baik yang kecil maupun yang besar.' Dan aku melihat binatang itu dan raja-raja di bumi serta tentara-tentara mereka telah berkumpul untuk melakukan peperangan melawan Penunggang kuda itu dan tentara-Nya. Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang. Dan semua orang lain dibunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut Penunggang kuda itu; dan semua burung kenyang oleh daging mereka." (Wahyu 11:19-21).

Kitab Wahyu menggambarkan Liturgi Surgawi sebagai sebuah Pesta Pernikahan Agung. Tetapi berkaitan erat dengan perayaan pemberian diri seutuhnya menjadi satu daging antara Kristus dan Gereja-Nya, adalah peperangan besar antara kuasa-kuasa surgawi melawan Setan, makhluk ciptaan yang telah jatuh itu, dan malaikat-malaikatnya.

Adalah sangat mengagumkan, menakutkan, sekaligus juga kehormatan yang sangat besar bahwa kehadiran kita dalam Liturgi Anak Domba berarti ambil bagian dalam garis depan pertempuran ini.

Kita berpekik bersama para malaikat yang tak henti-hentinya bermadah: "Kemuliaan kepada Allah di tempat yang mahatinggi" dan juga "Kudus, kudus, kudus Allah semesta alam."

Kita bersorak bersama para Kudus Allah yang berseru: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" (Wahyu 5: 12 - Antifon Pembukaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam).

Tetapi juga, Liturgi adalah cerminan dimana penghakiman kita sudah dilaksanakan. Dimana berkat dan kutuk dalam Perjanjian dihadapkan kepada kita.
"Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan. Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua." (Wahyu 21:6-8).

Maka kita dapat mengerti betapa kerasnya Santo Paulus memperingatkan pentingnya persiapan diri sebelum ambil bagian dalam Pesta Pernikahan Anak Domba ini.
"Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal." (1 Kor 11:26-30).

Namun demikian, sudah dalam Liturgi juga kita ambil bagian dan merasakan kepenuhan akhir yang masih kita harapkan, kemenangan akhir yang dijanjikan Allah kepada kita: " "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Wahyu 19:6-8).

Mungkin Ekaristi yang kita lewati sehari-hari tampak membosankan. Mungkin kita tidak cukup membangun dasar yang kokoh untuk menopang kita masuk dalam misteri Allah yang luar biasa dalam Ekaristi. Mungkin kita disibukkan untuk menjadikan perayaan-perayaan Ekaristi kita relevan, menyenangkan, modern. Tetapi, kita tidak menyadari betapa besarnya tanggungjawab, rahmat, kekuatan, kemegahan, kengerian, keagungan yang sesungguhnya ada dibaliknya. Kita sering kali gagal mengenali Allah yang hadir dibalik sosok seorang bayi dari Nazaret yang popoknya basah.

Setiap kali kita ambil bagian dalam perayaan Ekaristi, kita maju ke barisan paling depan dalam sebuah pertempuran rohani yang paling sengit dan kolosal sepanjang sejarah, dan bukan sebagai penonton, melainkan sebagai salah satu pejuang di garis depan.

Kaget kah?
Are you ready?

Rabu, 04 Januari 2012

Relativisme & Liturgi

Darimana trend dan justifikasi inovasi liturgi yang seringkali merebak di sana-sini dalam kehidupan menggereja? Tampaknya tidak bisa dilepaskan dari budaya relativisme, "dictatorship of relativism," yang melahirkan New Age.
Sekilas hubungan ini disebut dalam sebuah paper yang disiapkan Cardinal Ratzinger (Paus Benediktus XVI) untuk pertemuan antara Kongregasi Ajaran Iman dengan Konferensi Waligereja negara-negara dari Amerika Latin, 1996 di Guadalajara, Mexico.

"Thus, all in all, we are facing a remarkable situation: liberation theology had tried to give a new practice to a Christendom that was tired of dogma, a practice by means of which redemption was finally to become an actual event. This practice, however, instead of bringing freedom, left destruction in its wake. What was left was relativism and the attempt to come to terms with it. Yet what that offers is in its turn so empty that the relativist theories look for help from the liberation theology, so as thus to become of more practical use. Finally, New Age says, "Let's just leave Christianity as a failed experiment and go back to the gods--it's better that way."
[Truth and Tolerance: Christian Beliefs and World Religions. Joseph Cardinal Ratzinger. Ignatius Press, 2004. pp.130-131]

Kita perlu elaborasi sedikit analisa mengenai New Age yang beliau berikan di buku yang sama, apa yang dimaksud beliau dengan "go back to the gods."

Relativisme melahirkan sebuah situasi dimana kebenaran obyektif tidak lagi dipercaya, atau bahkan dinyatakan ketinggalan zaman dan ditentang. Ini memberikan dilema dalam hal "praksis" di lapangan dalam berbagai hal. Kalau tidak ada lagi "kebenaran" secara obyektif, apa yang menjadi panduan aplikasi?
Lahirlah "ortopraksis" yang diabsolutkan, dan dalam ranah politik meminjam pandangan Marx melahirkan Marxisme praktis dimana semua orang dibawa pada satu cara, satu cetakan, satu suara, kalau perlu secara paksa. Runtuhnya komunisme Eropa memperlihatkan pada dunia kebobrokan dan kegagalan metode ini, yang hanya menghasilkan penderitaan di mana-mana.

Lelah dengan relativisme, lahirlah gerakan zaman baru, New Age, yang merupakan fenomena yang kompleks dan beragam. Tetapi ada satu filosofi yang mendasari, bahwa untuk keluar dari dilema relativisme perlu kembali kepada pengalaman diluar kategori, merasakan, berjumpa kembali dengan ekstasi kosmik, untuk merasakan dan menjumpai "kebenaran." Kebenaran bukan sesuatu yang rasional untuk dipercaya, tetapi kebenaran adalah sesuatu untuk dialami, melewati berbagai perbedaan.

"Redemption lies in breaking down the limits of the self, in going back home to the universe. Ecstasy is being sought for, the intoxication of infinity, which can happen to people en masse in ecstatic music, in rhythm, in dance, in a mad whirl of lights and darkness. Here it is not merely the modern way of domination by the self that is renounced and abolished; here man -in order to be free- must let himself be abolished. The gods are returning. They have become more credible than God. Aboriginal rites must be renewed in which the self is initiated into the mysteries of the universe and freed from its own self.
...If what takes place in the sacraments is not the encounter with the one living God of all men, then they are empty rituals that mean nothing and give us nothing and, at best, allow us to sense the numinous element that is actively present in all religions.
...But above all, if the 'rational intoxication' of the Christian mystery cannot make us intoxicated with God, then we just have to conjure up the real, concrete intoxication of effective ecstasies, the passionate power of which catches us up and turns us, at least for a moment, into gods, helps us for a moment to sense the pleasure of infinity and to forget the misery of finite existence."
[Truth and Tolerance: Christian Beliefs and World Religions. Joseph Cardinal Ratzinger. Ignatius Press, 2004. pp.128-129]

Bagaimana hal ini meresap dan mempengaruhi Gereja? Secara spesifik di bidang liturgi, beliau mengatakan demikian:

"The various phases of liturgical reform have allowed people to gain the impression that liturgy can be changed as and how you wish. If there is any unchanging element, people think, then this would in no instance be anything other than the words of consecrations: everything else might be done differently. The next idea is quite logical: If a central authority can do that, then why not local decision-making bodies? And if local bodies, then why not the congregation itself? It ought to be expressing itself in the liturgy and should be able to see its own style recognizably present there. After the rationalist and puritan trend of the seventies, and even the eighties, people are tired of liturgies that are just words and would like liturgies they can experience; and these soon get close to New Age styles: a search for intoxication and ectasy..."
[Truth and Tolerance: Christian Beliefs and World Religions. Joseph Cardinal Ratzinger. Ignatius Press, 2004. pp.130]

Dengan demikian di dalam Gereja terjadi inovasi liturgi, yang dalam usaha menjadikannya lebih "aplikatif", "pastoral" ataupun "relevan" dilakukan perubahan-perubahan supaya orang yang berpartisipasi di dalamnya mengalami "ekstasi, mabuk, senang" dengan "style" dari mereka untuk mereka. Kalau liturgi bisa diubah oleh bos di atas, kenapa kita tidak bisa? Kita ubah supaya lebih "memuaskan" untuk kita, yang penting kata-kata konsekrasinya tetap...

Jumat, 02 Desember 2011

Spirituality: Shelter vs Training Camp

Setelah Hari Raya Kristus Raja, setiap angkatan diingatkan kembali tentang pentingnya "spiritualitas" yang selalu erat kaitannya dengan "formasi spiritual."
Inti terdalam dari setiap spiritualitas, yang dituangkan dalam formasi spiritual, adalah belajar, ditempa, dihajar, diganjar, dididik dalam iman. Dan melalui berbagai latihan rohani, berusaha menjadikan iman sebagai sebuah cara hidup yang nyata, konkret, memiliki tuntutan dan komitmen yang secara sukarela dan sadar dijalani.

Karenanya formasi spiritual selalu dapat diibaratkan sebagai sebuah Training Camp, dimana seseorang digojlok, dipaksa, dihajar untuk mau keluar dari kenyamanan dan berkembang secara optimal. Dan kita sangat mengagumi orang-orang yang telah melewati segala ujian ini. Kita menaruh kepercayaan lebih pada tentara yang melewati pelatihan keras untuk melindungi kita, daripada pada sekelompok orang yang hidup dalam kenyamanan dan jauh dari kerasnya kehidupan.

Sebaliknya sebuah Shelter, atau tempat penampungan, sebuah panti, selalu diusahakan menjadi tempat dimana ada orang lain yang melayani kebutuhan mereka yang ditampung. Entah korban bencana, orang sakit, orang tua atau orang yang sekedar lelah. Sebuah tempat penampungan diusahakan menjadi sebuah oasis dimana seseorang bisa melepas beban dan dilayani.

Dalam pertemuan sel, timbul pertanyaan: mengapa Ibadat Katolik (perayaan Liturgi, dengan Misa utamanya) bagi kebanyakan umat, dianggap begitu dangkal, membosankan, menyebalkan, hambar, membuat ngantuk dan tidak menarik?
Mendingan ke Persekutuan Doa, atau ibadah non-Katolik. Lebih nyaman, lebih hidup, lebih bertumbuh dan berkembang.

Terbersit dalam benak saya, mungkin alasan pertama mengapa Ibadat Katolik "kurang menyenangkan" adalah karena Liturgi pertama-tama adalah sebuah Training Camp daripada sebuah Shelter. Liturgi pertama-tama adalah karya Allah, masuk dalam Liturgi seseorang "dipaksa" untuk masuk dalam aliran misteri iman yang disediakan Gereja.

Mungkin kita sedang bergembira, sedang senang, hati kita sedang berbunga-bunga, lalu di Gereja kita disodorkan Firman Allah tentang penghakiman, kesukaran, kemiskinan, kematian.
Mungkin kita sedang berduka, namun Gereja sedang berpesta dengan pujian-pujian meriah dan Alleluya membahana.
Mungkin kita orang yang susah diam, sulit disuruh tenang, pikiran selalu sibuk tidak karuan, duduk diam rasanya sulit, tangan gatel gak pegang Blackberry. Tetapi dalam perayaan Liturgis, kita dipaksa untuk diam merenungkan bacaan suci.
Liturgi juga sarat dengan norma dan aturan pelaksanaan, sehingga baik umat maupun imam dan petugas, bertindak sebagai pelayan (dan bukan tuan) yang tunduk kepada tata Liturgi, mempelajarinya dengan cermat dan melaksanakannya dengan penuh kesadaran, mengorbankan selera pribadi.

Kalau merenungkan bagaimana umat Kristen awal merayakan Liturgi dibawah sanksi hukuman mati, hal ini akan tampak semakin jelas. Untuk apa mereka datang ke perayaan Ekaristi sampai harus bertaruh nyawa? Untuk mendengarkan lagu yang enak, menyumbangkan kreatifitas, atau mencari hiburan?

Bandingkan dengan Persekutuan Doa atau Ibadah Kristen pada umumnya. Ketika datang kita disambut, perayaan disesuaikan untuk anak muda, anak-anak, orang tua. Emosi bisa dituangkan dengan bebas, kreasi bisa dilaksanakan dengan lepas. Pemilihan lagu disesuaikan dengan minat ataupun trend.

Sekarang kita pikirkan realitas kehidupan awam umat modern, apalagi kota besar seperti Jakarta.
Banyak yang datang merantau jauh dari keluarga, para pekerja yang sibuk bekerja dari pagi sampai malam, teknologi yang memberi kesan serba instan, hiburan audio visual yang cepat saji dan menarik, dan manusia-manusia modern yc ji'udan hidupnya terpecah, rapuh, berantakan, terluka di dalam sementera berusaha tampak necis dan berkecukupan di luar.

Tidak heran, budaya Shelter jauh lebih menawan dan menarik. Hidup sudah cape dan lelah, masalah keluarga sudah banyak, kenapa datang ke Gereja masih harus repot?
Apalagi datang ke Ibadat Katolik, dengan Gereja berasumsi orang Katolik yang dewasa dan bertanggungjawab atas iman mereka, belajar sendiri, berkomunitas sendiri. Yang mengasumsikan bahwa keluarga-keluarga mengajar anak-anak mereka dalam iman, makna-makna simbolis, doa dan Kitab Suci.
Repot amat?!

Tidak bisa dipungkiri, bahwa ada tempat bagi keduanya, Shelter dan Training Camp.
Orang yang terluka harus dirawat lebih dulu sebelum bisa masuk ke sebuah training camp.

Gereja selalu berkata, bahwa Ekaristi adalah puncak dan mahkota ibadah kita.
Tetapi, tentu saja, sebagai sebuah puncak, ada dasar yang harus dibangun dengan kokoh dan kuat. Jika tidak, puncak tersebut tidak akan pernah dicapai sebab runtuh karena tidak memiliki dasar yang mantap.

Katekismus Gereja Katolik 1072 mengatakan demikian:
"'Liturgi kudus tidak mencakup seluruh kegiatan Gereja' (Sacrosanctum Concillium 9); penginjilan, iman
dan pertobatan harus mendahuluinya; barulah ia dapat menghasilkan buahnya dalam
kehidupan umat beriman: kehidupan baru dalam Roh Kudus, keterlibatan yang aktif
dalam perutusan Gereja, dan pelayanan pada kesatuannya."

Karena itu diseputar Ekaristi, Gereja selalu menganjurkan berbagai bentuk devosi, persekutuan doa, komunitas, berhimpun dalam kelompok, perayaan-perayaan bahkan yang meriah, walau selalu dipisahkan dari pelaksanan Liturgi.

Tapi apa jadinya, kalau orang modern ingin semuanya: rekreasi dan didikan dilaksanakan cukup 1 jam seminggu hanya dalam perayaan Ekaristi?
Cukup dikatakan, rekreasinya gak dapat (atau dipaksakan walau harus melanggar aturan), didikannya tidak memadai (karena bukan hanya bacaan, melainkan juga sikap, tindakan, keheningan yang merupakan bagian dari pembentukan dan didikan, hilang lenyap).

Kita butuh Shelter, kita juga butuh Training Camp. Tetapi mencampur adukkan keduanya, sungguh bukan ide yang bagus....

Senin, 07 November 2011

Komunitas dan Bedhol Desa....

Tanggal 5 November 2011, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengadakan event untuk menjaring orang-orang muda KAJ. Salah satu kegiatan dari event tersebut adalah mengadakan temu-kenal komunitas-komunitas kategorial KAJ. Masing-masing komunitas diberi booth untuk memperkenalkan komunitasnya.

Saya melihat banyak sekali komunitas yang menarik, baik yang memiliki jejaring internasional maupun yang berdiri sebagai komunitas lokal.

Contoh komunitas yang berjejaring internasional yang berpartisipasi adalah Komunitas Emmanuel yang berpusat di Perancis; Antiokhia yang awal berdirinya di Amerika Serikat; Komunitas Tritunggal Mahakudus yang merupakan komunitas asli Indonesia yang sekarang sudah melanglang buana; Light of Jesus Family Indonesia yang didirikan oleh Bo Sanchez, seorang evangelis Katolik ternama dari Filipina.

Sementara komunitas lokal yang ada di KAJ sebagai contoh adalah Orang Muda Katolik Perduli Bangsa; Kelompok Karyawan Muda Katolik; Yayasan Kasih Mulia yang memiliki keperdulian khusus terhadap pencandu narkoba; dan Domus Cordis yang merupakan komunitas orang muda Katolik yang mengejar mimpi dengan fondasi Teologi Tubuh yang diajarkan Paus Yohanes Paulus II.

Belum semua komunitas dan kelompok saya sebutkan di sini, hanya beberapa saja yang kebetulan melewati benak dan pikiran saya ketika menuliskan artikel ini. Saya melihat semua komunitas dan kelompok ini luar biasa memperkaya Gereja Katolik, di KAJ khususnya.

Namun, banyaknya komunitas juga menimbulkan ketegangan tersendiri, terutama dan utamanya berkenaan dengan perpindahan anggota dari satu komunitas ke komunitas lain. Ini adalah kenyataan yang terjadi di lapangan, sesuatu yang tidak bisa dipungkiri pasti terjadi.

Saya pribadi pernah berada di satu komunitas selama kurang lebih 10 tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk berkomitmen di komunitas lain, meninggalkan komunitas saya yang lama.

Tentunya, bagi setiap orang, perpisahan adalah kenyataan yang pahit dan menyakitkan bagi kedua belah pihak: yang meninggalkan dan yang ditinggalkan.

Ada berbagai cara pandang memaknai seorang anggota komunitas yang sudah lama saling kenal, saling berbagi suka duka bersama, kemudian beralih.

Ada yang melihat orang yang beralih sebagai seorang penghianat, seorang anggota keluarga yang terhilang. Apalagi kalau keberadaannya sudah menghasilkan bonding yang kuat dengan anggota komunitas yang lama.

Namun, bisa juga kita melihatnya sebagai sesuatu yang patut disyukuri dan menggembirakan. Bukan karena akhirnya seorang pengganggu meninggalkan kawanan, melainkan karena dengan demikian, sebuah kelompok berhasil mengarahkan seorang anggotanya, lewat proses discernment bersama-sama, mencari apa yang terbaik bagi satu anggota keluarga yang dikasihi. Apa yang menjadi kehendak dan rencana Allah bagi anggota keluarga yang berarti ini.

Berbeda dengan kehidupan seorang religius, komunitas awam kenyataannya jauh lebih "encer." Seorang awam non-religius berasal dari berbagai usia dan latar belakang. Ada yang seorang mahasiswa, seorang pelajar, seorang pekerja. Ada yang lajang, ada yang sudah berkeluarga, ada yang mempersiapkan pernikahan, ada yang mencari arah panggilan hidup. Ada yang mapan menetap di satu wilayah, ada yang sering berpergian. Macam-macam.

Masing-masing dari mereka memiliki kehidupan rohani yang berbeda pula, dan sangat mungkin berubah ketika terjadi perubahan dalam hidup mereka. Mahasiswa yang mulai terjun ke dunia pekerjaan, baru membina keluarga, ataupun berbagai perubahan lain dalam hidup mereka.

Walaupun dalam kehidupan berkomunitas, praktik yang sehat adalah seorang anggota komunitas berangkat dari harapan dan kerinduan untuk memberi kepada anggota yang lain, bukan sekedar datang untuk di-entertain atau karena ingin memperoleh sesuatu; namun di satu sisi komunitas memiliki visi dan misi spesifik yang berusaha menjawab kerinduan dan kebutuhan orang dari segmen tertentu dalam Gereja dan masyarakat.

Ketika seseorang mencapai titik kehidupan tertentu, mungkin saja seorang anggota komunitas terpanggil untuk menerima pembinaan, berbagi dan berkarya secara berbeda, yang berbeda dari visi misi komunitasnya.

Dalam situasi ideal, perpisahan ini terjadi berkat proses discernment yang didukung oleh anggota komunitas. Perpisahan yang terjadi, walaupun tidak menyenangkan, merupakan jawaban atas ketaatan terhadap suara Allah, kebutuhan dan kebaikan anggota komunitas yang hendak menjalani kehidupan baru.

Idealnya, komunitas yang satu adalah partner dari komunitas yang lain, bukan saingan apalagi rival dan musuh. Masing-masing membangun Gereja bersama-sama, tetap dalam persaudaraan sebagai anggota Gereja yang satu.

Tentunya tidak ada komunitas yang sempurna.
Masing-masing komunitas adalah entitas yang jatuh-bangun, mereformasi dan direformasi ke arah yang lebih baik.

Tidak semua skenario ideal berjalan dalam kenyataan. Ada anggota yang memilih berpisah karena kecewa. Ada anggota yang merasa rumput di ladang tetangga selalu lebih hijau. Ada anggota yang memang dari awalnya tidak ingin berkomitmen. Ada yang keluar karena memang komunitasnya loyo. Ada komunitas yang alih fungsi dari komunitas kristiani menjadi komunitas arisan atau organisasi sosial semata. Macam-macam skenario dengan berbagai macam rasa, campuran, kombinasi dan topping tidak terbatas.

Siapa yang disalahkan?
Bisa jadi tanggung jawab pribadi anggota yang tidak secara serius mau berjalan bersama komunitasnya.
Bisa jadi komunitasnya mulai kehilangan arah dan tujuan.
Bisa jadi keadaan menyebabkan segala usaha dan upaya menjadi tidak ideal.
Kita tentu saja harus selalu melihat konteks.

Karena itu sebuah komunitas harus berjuang, setiap saat, untuk meningkatkan kualitasnya. Dengan demikian sebuah komunitas benar-benar dapat menjadi sebuah wadah untuk membina, membangun, memberi. Sehingga jika sebuah perpisahan terjadi, komunitas yang ditinggalkan bisa berbangga telah melepas seorang anggota keluarga yang menjawab panggilan Tuhan, yang telah dibesarkan dengan baik.

Perpisahan adalah cermin yang memperlihatkan berbagai hal.
Apakah komunitas saya kurang sehat sehingga perpisahan harus terjadi?
Apakah komunitas saya terobsesi dengan jumlah anggota?
Apakah komunitas saya menyikapi perpisahan secara positif? Ataukah negatif?
Apakah komunitas saya sudah melakukan yang terbaik dalam pembinaan?
Apakah komunitas saya masih setia mendengarkan suara Tuhan?
Refleksi ini masih bisa dilanjutkan...

Tentu saja kalau dijawab secara jujur, ini semua bisa menjadi bekal bagi reformasi ke arah yang lebih baik, dengan tujuan yang benar dan mulia, ke arah karisma komunitas yang hendak dicapai bagi melayani Gereja.

Tapi sering kali kita memiliki tujuan yang berbeda di benak kita, sekedar reformasi dengan tujuan komunitas menggemuk dan anggota tidak bocor.

Keduanya sama-sama evaluasi untuk memperbaiki komunitas, tetapi arah yang dituju sangat berlawanan. Dan kiranya, kita tidak terjebak pada sekedar keinginan melakukan reformasi sekedar demi mempertahankan atau meningkatkan jumlah anggota.
 
Saya rasa refleksi dan pertanyaan-pertanyaan ini harus senantiasa ditanyakan oleh sebuah komunitas.

Di awal tulisan, saya menuliskan bahwa saya pribadi mengalami "pindah rumah" dari sebuah komunitas ke komunitas lain.
Apakah karena komunitas yang baru lebih baik dari yang lain?
Apakah karena ada dendam pribadi terhadap komunitas yang lama?
Tentunya ada orang yang bertanya-tanya.

Tetapi ternyata jawaban yang bisa saya berikan tidak sedramatis itu. Komunitas yang baru maupun yang lama, bergelut dengan masalahnya sendiri. Benar-benar komunitas yang jauh dari sempurna, malahan dari awal bergabung saya sudah mengalami gesekan sana sini. Sungguh pengalaman yang benar-benar sesuai untuk mencegah saya bergabung.

Komunitas yang lama tentu saja punya pergulatannya sendiri. Tetapi saya sangat merindukan dan membanggakan kedekatan dan kekentalan hubungan antar anggotanya.

Sekarang pun saya akui, saya masih menyukai, sangat sangat menyukai komunitas saya yang lama. Saya "dibesarkan" selama 1 dekade oleh komunitas saya yang lama, dan saya melihat komunitas saya yang lama sebagai partner. Saya mendoakan, mengharapkan, meminta bantuan, dan sebisa mungkin memberi bantuan kepada komunitas saya yang lama. I love it so much.

Walaupun saya sekarang berada di komunitas lain, keputusan ini mungkin tidak pernah bisa saya ambil tanpa pembinaan yang pernah saya terima dari komunitas saya yang lama. Saya harus akui, bahwa saya banyak kali juga belum mampu menjawab harapan komunitas, komitmen yang bolong-bolong, dan mind set yang salah untuk memperoleh sesuatu daripada memberi sesuatu. Kadang saya berpikir, apakah lebih baik saya berjuang lebih keras lagi di komunitas yang lama daripada berpisah?

Entah juga...

Tetapi saat ini, dengan berbekal pengalaman yang sebelumnya, baik juga saya tunjukkan penghargaan dan terima kasih saya terhadap komunitas yang lama dengan berjuang mendengarkan suara Tuhan lebih lagi di rumah yang baru. Selalu bagi Kemuliaan Allah dan Gereja-Nya.

Mungkin yang membaca tulisan ini memiliki drama-nya, sudut pandangnya sendiri tentang suatu komunitas.
Mungkin ada yang mencari komunitas.
Mungkin ada yang baru menerima jawaban tegas dari komunitas, "Mungkin sekali Tuhan tidak memanggil anda untuk berada di sini," dan masih merasa sedih, kecewa, marah, kesal. Gak tahu apa, gua dah susah-susah tiap kali bela-belain datang? Gak tau apa gua sibuk? Gak tau apa gua cinta mati sama dia yang selalu duduk di sebelah gua?

Tetapi, sebuah komunitas Kristiani ada untuk memenuhi sebuah visi dan misi yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Kehilangan visi dan misi itu menjadikan sebuah komunitas Kristiani tidak lebih dari organisasi sosial belaka atau perkumpulan arisan semata.
Maka walaupun menyebalkan (semi-eksklusif?), kita harus mempertanyakan terus, mengevaluasi dan mengevaluasi lagi, peran discernment dalam sebuah komunitas, dan menjadi cukup berani untuk mengupayakannya.

Sabtu, 09 Juli 2011

Ketika Menanti dan Menerima Menjadi Begitu Sulit

Sudah dua hari ini, dalam perjalanan pulang ke rumah saya melewati GPdI Kramat Raya no. 65. Dari dalam kendaraan yang melaju samar-samar terlihat panggung dan dinding putih yang berada di dalam gedung tersebut. Halaman parkirnya dipenuhi beberapa mobil dan motor. Tidak tampak sedang ada ibadah berlangsung, kemungkinan besar mereka adalah umat yang sedang berlatih mempersiapkan diri untuk ibadah mendatang.

Saya berpikir, bahwa setiap pekan pasti akan ada orang-orang yang mempersiapkan diri, memilih lagu, berlatih menari, memikirkan koreografi, memikirkan apa yang sebaiknya ditampilkan pekan ini, berdoa bersama demi pelayanan pekan tersebut. Singkatnya, setiap pekan adalah sebuah event yang perlu dipersiapkan. Entah tepat atau tidak, namun "worship" bagi mereka identik dengan karya, dengan performa. Pemberian diri diwujudkan utamanya dalam sumbangsih peran dalam mempersiapkan dan menggelar event, yang merupakan bentuk ibadah, memberi yang terbaik bagi Allah.

Saya akui, rasa kagum saya langsung meluber. Tetapi pada saat yang bersamaan, terbersit sesuatu dalam benak saya, mengapa "worship" yang demikian sungguh populer. Ibadah ini pada saat yang bersamaan menjadi ajang aktualisasi diri: bakat, minat, kemampuan, keramahan, pengakuan dan kebersamaan. Tidak ada yang buruk dengan semuanya itu, dan memang kita memerlukan wadah, event, momen yang tepat dan baik untuk itu semua. Jemaat menjadi terlihat dinamis, aktif dan menarik. Ada upaya untuk selalu tampak segar, menampilkan kemasan yang menarik dan mampu memikat orang.

Umat Katolik biasa memandang dengan iri dan berusaha sebaik mungkin memberikan performa yang sama dalam kegiatan-kegiatannya. Utamanya, Misa Kudus, menjadi tempat dimana aktualisasi diri itu hendak diwujudnyatakan. Namun dalam segala kejujuran, umat banyak berbenturan dengan norma, aturan dan hukum Liturgi yang seolah tidak memberi tempat, lalu menjadi frustasi: Tata perayaan yang tetap, teks yang tidak berubah, lagu yang tidak banyak berubah, penampilan yang tidak mencolok, petugas yang terbatas, persembahan roti dan anggur yang makin hari seolah hilang makna dan tidak lagi relevan, dsb, dsb, dsb.

Menarik bahwa dalam ibadah utama Gereja Katolik, yaitu Misa Kudus, pemahaman "worship" memiliki makna yang sama sekali berbeda dengan apa yang bisa diperhatikan dari "worship" GPdI yang saya lihat. Karena dalam Gereja Katolik, "worship" pertama-tama bukan kita melakukan sesuatu bagi Allah. Melainkan kita secara aktif membiarkan diri kita ambil bagian dalam tindakan Allah. Tidak semua orang memiliki peran yang sama dan sepadan. "Worship" adalah tindakan Kristus mempersembahkan diri. Secara aktif kita memberikan diri kita larut dalam tindakan Kristus itu, segala karya, suka dan duka kita. Menanti Allah bertindak dan menerima Allah melayani dan memberikan diri-Nya kepada kita. Dengan demikian, utamanya, perayaan Ekaristi bukan momen dimana kita mengaktualisasikan diri. Melainkan momen dimana Allah mengaktualisasikan diri. Aktualisasi diri kita terjadi dalam perutusan kita ke dunia.

Dalam masyarakat modern, dimana kita menjadi begitu aktif dan aktualisasi diri menjadi kebutuhan bahkan tuntutan, membiarkan diri menerima dan menanti menjadi pengalaman yang begitu sulit. Membosankan, menyebalkan, atau bahkan menakutkan.
Ternyata, membiarkan diri dilayani, direngkuh dan menerima, tidak semudah yang kita bayangkan.
Bukan berarti kita tidak bisa memberikan pemberian-pemberian terbaik kita. Tetapi pemberian-pemberian terbaik kita tidak pernah menjadi pemeran utama. Dan sering kali ini bukan menjadi berita yang membebaskan, malahan seolah menjadi pil pahit yang harus ditelan. Menanti dan menerima seolah menjadi identik dengan penolakan atau pernyataan tidak dibutuhkan.

Jika ada teman-teman yang pernah merasa demikian, saya bisa katakan bahwa saya pun pernah merasa demikian. Tetapi, dilihat dari sisi yang berbeda, Misa Kudus adalah momen mengagumkan.
Momen di mana Sang Pengantin merengkuh MempelaiNya. Atau juga momen di mana Panglima Perang kita yang perkasa maju ke medan pertempuran dan menang dengan jaya, sementara para ksatria, panglima dan puteri-puteri bersujud memberi hormat di hadapan kemuliaan yang begitu besar.

Penantian dan menerima... diriku kehabisan kata-kata...

Sabtu, 21 Mei 2011

Pesta dan Hari Raya yang jatuh pada hari Minggu selama Tahun Liturgi

Aturannya begini. Hari Minggu selama tahun liturgi dianggap sangat penting. Terutama hari Minggu selama Adven, Prapaskah dan Paskah.

Hanya Pesta memperingati Tuhan atau Hari Raya yang jatuh pada hari Minggu di luar 3 masa tersebut yang boleh... menggantikan perayaan hari Minggu. Misalnya, Hari Raya St. Perawan Maria Bunda Allah (1 Januari) jika jatuh hari Minggu maka akan dirayakan menggantikan hari Minggu. Pesta Tuhan Menampakkan Kemuliaan-Nya misalnya, jika jatuh hari Minggu akan tetap dirayakan menggantikan hari Minggu.
Pesta lain yang berkenaan dengan Santo/Santa, Pendirian Gereja, dsbnya akan diabaikan, karena lebih rendah dari hari Minggu derajatnya.

Selama 3 masa tersebut: Adven, Prapaskah, Paskah, derajat hari Minggu menjadi mutlak dan tidak bisa digantikan oleh apapun. Jika ada Pesta Tuhan atau Hari Raya yang jatuh pada hari Minggu pada masa-masa tersebut, maka akan digeser ke hari Sabtu.


Pesta Tuhan yang mungkin jatuh pada hari Minggu dan menggantikan hari Minggu:
1. Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah (2 Februari)
2. Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya (6 Agustus)
3. Pesta Salib Suci (14 September)

Acuan: General Norms for the Liturgical Year and the Calendar

Jumat, 04 Maret 2011

Misa Kudus yang dirayakan dengan buruk mengakibatkan hilangnya iman

Melemahnya iman akan Tuhan, meningkatnya egoisme, menurunnya jumlah orang yang menghadiri Misa di berbagai tempat di dunia dapat dirunut kembali pada perayaan Misa Kudus yang tidak khidmad dan tidak mengindahkan aturan-aturan Gereja. Demikian disampaikan oleh 2 orang pejabat Vatikan (Kardinal Raymond L. Burke - Prefek Apostolic Signatura, dan Kardinal Antonio Canizares Llovera - Prefek Kongregasi Ibadat Ilahi) dan seorang penasihat Kongregasi Ibadat Ilahi, Romo. Nicola Bux.

Kardinal Canizares mengatakan, "Partisipasi dalam perayaan Ekaristi dapat melemahkan bahkan membuat kita kehilangan iman jika kita tidak masuk ke dalamnya dengan benar," dan jika liturgi tidak dirayakan sesuai dengan norma-norma Gereja.

Hal senada dikatakan oleh Kardinal Burke, "Jika kita salah dengan berpikir bahwa kitalah pusat dari liturgi, Misa Kudus akan menghantar pada hilangnya iman." Juga sependapat dengan Romo Nicola Bux, ia mengatakan bahwa "penyelewengan liturgi (liturgical abuse) menyebabkan kerusakan serius terhadap iman umat Katolik."

Sayangnya, beliau menambahkan, terlalu banyak imam dan uskup menangani pelanggaran norma-norma liturgi sebagai sesuatu yang tidak penting, padahal sebenarnya hal itu adalah "penyelewengan yang serius."

Romo Bux mengatakan bahwa banyak umat Katolik modern yang berpikir bahwa Misa adalah kegiatan  yang dilakukan bersama-sama oleh imam dan umat. Padahal kenyataannya, Misa adalah sesuatu yang dilakukan Yesus.

Artikel asli: http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/1100868.htm