Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Agustus 2012
Dari Pilihan Lagu menuju Makna Terdalam Liturgi
Semua lagu liturgi adalah lagu rohani. Tapi tidak semua lagu rohani adalah lagu liturgi. Sementara itu, lagu-lagu untuk perayaan liturgi, aturannya hanya menggunakan lagu-lagu liturgi.
Lagu liturgi itu apa cirinya? Pertama-tama, paling sederhananya, lagu liturgi adalah teks liturgi yang dinyanyikan.
Teks liturgi dibuat sangat hati-hati atau secara historis memiliki muatan teologis. Jadi bukan sekedar indah. Karena liturgi memiliki 2 tujuan: mengajar sekaligus menyembah Allah.
Analoginya adalah Mazmur dan madah-madah Kitab Suci. Mendaraskan madah-madah ini tidak lain dan tidak bukan memuji Allah sendiri dengan teks yang diinspirasi oleh Roh Kudus. Tapi pada saat bersamaan, mendaraskan/menyanyikan teks ini berarti juga membiarkan Allah bicara dan mengajar kita melalui teks-teks ini.
Pada saat bersamaan, teks liturgi yang disusun Gereja, didsaraskan para kudus dari zaman ke zaman, bertahan melalui berbagai rintangan penindasan dan kesesatan, merupakan karya Roh Kudus dalam Gereja, dan mendaraskan/menyanyikannya kita memuji Allah bersama seluruh Gereja. Tapi pada saat bersamaan, teks ini memiliki muatan dogmatis yang kuat, yang bertujuan mengajar umat beriman akan iman yang benar.
Karena itu, aturan liturgi, misalnya dalam Pedoman Umum Misale Romawi, melarang teks ini diganti dengan apapun. Gereja lebih memilih teks ini didaraskan daripada diganti lagu lain.
Kalau dilagukan, maka musik menjadi hamba teks. Teks harus utuh, musik harus mendukung keindahannya. Tapi mengubah teks demi disesuaikan dengan lagu, dilarang.
Karena itu dalam terang Pedoman Umum Misale Romawi terbaru dan Redemptoris Sacramentum dari Tahta Suci, lagu-lagu liturgis, bahkan yang ada dalam Puji Syukur tidak semuanya bisa dipakai. Lagu yang teksnya mengubah teks liturgis yang ada dalam Misale tidak bisa dipakai.
Semua itu bisa dipakai di luar konteks Misa. Misalnya ibadat sabda, ibadat-ibadat lingkungan dsbnya.
Lagu-lagu rohani kontemporer, pada definisinya termasuk lagu-lagu rohani devosional. Devosi bisa lebih bersifat personal, lebih "ngangkat", lebih "manis," "menyenangkan" dan "hangat." Tetapi devosi dan liturgi, walaupun saling mendukung, memiliki tempat dan porsinya masing-masing.
Selalu ada tempat bagi devosi di luar Liturgi. Namun tujuan akhir devosi harus selalu menjadi persiapan untuk masuk ke dalam liturgi dengan lebih matang, kuat dan dalam.
Yang jadi problem adalah ketika devosi mulai mengerosi liturgi. Ketika ini dilakukan dalam jangka panjang, masalah terjadi.
Liturgi yang merupakan puncak kehidupan rohani menjadi dipahami dengan dangkal.
Sentimen devosional menjadi sesuatu yang dicari, sementara misteri dalam liturgi menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa dipahami.
Lingkaran setan pun dimulai, liturgi mulai dirombak untuk berbagai sentimen devosional.
Ditambah lagi dalam situasi umat sekarang, dimana Misa bisa jadi menjadi satu-satunya saat beribadah bagi banyak orang, semua sentimen devosional itu hendak dijejalkan ke dalam liturgi. Satu jam seminggu, kita jejalkan segala hal yang harusnya dibangun perlahan dalam kehidupan rohani sehari-hari, ke dalam liturgi.
Akhirnya bisa ditebak. Liturgi gagal menjadi puncak kehidupan rohani. Sentimen devosional bertabrakan dengan maksud liturgi dan terasa "canggung." Akhirnya tetap saja umat lari ke "seberang sungai." Liturgi pada akhirnya tetap jadi kambing hitam sebagai "oknum jahat" yang perlu direnovasi.
Kalau pake istilah Paulus, ada saatnya kita makan makanan yang ringan, manis, enak, dingin macam devosi-devosi. Tapi makanan yang keras, kita perlukan juga. Dan harus diakui, liturgi itu keras, disiplin, dan kontennya tidak senantiasa "manis" didengar.
Itu sebabnya, katekese liturgi sangat penting. Liturgi bagi Gereja adalah warisan dan tugas mulia untuk dijalankan. Liturgi adalah "Opus Dei" yang dipercayakan Allah kepada Gereja untuk menguduskan dunia dan sejarah. Liturgi adalah partisipasi nyata Gereja dalam Liturgi Ilahi yang dilaksanakan Kristus sendiri dalam Bait Allah Surgawi.
Sedemikian dalamnya, beratnya, mulianya dan besarnya kehormatan yang diterima Gereja untuk melaksanakan Liturgi, yang mampu mengangkat dunia ke surga, sehingga tanpanya Gereja tidak lebih dari sekumpulan organisasi sosial tanpa kuasa surgawi.
Devosi memupuk hubungan pribadi kita dengan Allah.
Tapi liturgi adalah mobilisasi umat Allah menggerakkan sejarah dan menguduskan dunia.
Teologi dibalik masing-masing harus dipahami untuk mendapat perspektif pastoral yang tepat.
Rabu, 17 November 2010
Hari Raya Kristus Raja 2010
Setiap orang memiliki gambaran yang paling disukainya akan Allah. Mungkin karena dalam kehidupan kita, kita dijamah oleh Allah secara khusus dan figur-Nya saat itu menjadi yang paling terpatri dalam batin kita. Allah yang menyembuhkan, Allah yang penuh kasih, Allah yang perkasa, Allah yang sangat dekat dengan kita.
Dalam kehidupan liturgi, Gereja secara hati-hati membawa kepada umat berbagai gambaran Allah dalam sejarah keselamatan. Dan sering kali, kita dikejutkan oleh gambaran yang Allah yang kurang kita kenal, atau tidak berusaha untuk kenal. Namun disinilah kebijaksanaan Gereja bersinar. Lewat tahun liturgi kita berjumpa dengan diri Allah sebagaimana diwartakan Kitab Suci.
Menjelang Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Gereja mengajak kita bertatap muka dengan pribadi Allah dalam Yesus Kristus secara istimewa.
Liturgi hari ini dibuka dengan Introit yang langsung memberikan tenor perayaan, diambil dari Kitab Wahyu:
"Pantaslah Anak Domba yang disembelih itu menerima kuasa dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan dah hormat. Bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya." (Wahyu 5:12; 1:6).
Kita yang bergaul cukup banyak dengan Kitab Wahyu pasti teringat adegan sangat dramatis yang menjadi konteks kutipan tersebut. Deru kilat dan guntur memenuhi surga, 24 tua-tua duduk di atas takhta, 4 makhluk ilahi masing-masing berkepala burung nasar, singa, lembu dan manusia bersorak tak henti, "kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang."(Wahyu 4:8) di hadapan takhta Allah.
Kemudian Dia yang duduk di takhta itu menyerahkan sebuah kitab yang disegel dengan 7 meterai. Tiada yang dapat membukanya baik di surga dan dibumi. Sampai datang, Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk dan bermata tujuh. Ketika Anak Domba itu mengambil gulungan kitab itu seluruh isi surga tersungkur di hadapan Anak Domba itu, melagukan pujian. Dan kemudian bergemalah, introit yang kita dengar pada awal Misa Kristus Raja: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian! Bagi Dia yang Duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin!" (Why 5:11,13,14).
Sabda Allah ini sudah menghempaskan kita ke suatu kenyataan yang luar biasa. Suatu keagungan dan kemegahan, suatu kengerian, sebab Anak Domba itu akan datang untuk menjadi pemenang, Ia akan mengadili semua makhluk dan akan menaklukkan segalanya, termasuk maut dibawah kaki-Nya.
Gereja mengajak kita bertemu dengan Anak Domba yang hidup walau sudah disembelih, bermata tujuh, bertanduk tujuh, yang membuat seluruh surga tersungkur, dan yang akan menjadi penakluk sejati. Kita bertemu dengan Allah yang perkasa, Hakim yang tertinggi.
Gambaran Allah seperti itu mampu membangkitkan bulu kuduk dan membuat kita tersungkur takut. Namun, Mazmur hari ini juga mengungkapkan kegembiraan, Mazmur 122, yang berseru: "Aku bersukacita ketika dikatakan orang kepadaku, 'Mari kita pergi ke rumah TUHAN.'...sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud." (Mzm 122:1,5).
Mengapa ada sorak gembira? Apalagi kegembiraan itu karena pengadilan! Bagi kita benar-benar alasan yang aneh untuk bergembira. Kita biasa bergembira karena hiburan, persahabatan, pertemanan, kumpul-kumpul, pesta dan kebersamaan. Tetapi bersukacita karena kursi pengadilan?
Namun bisa kita bayangkan ini adalah sorak-sorai umat Allah yang ditebus, kitalah umat yang ditebus itu! Sudah tiba saatnya Allah meraja, menjatuhkan para pendakwa kita, memberi keadilan bagi umat-Nya, membuat dunia menanggung darah umat Allah yang telah mereka tumpahkan. "Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, sebab besar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu." (Why 19:1-2).
Dalam bacaan kedua, Paulus mengungkapkan kekagumannya atas karya keselamatan Allah itu. Dalam apa yang dikenal Gereja sebagai Kidung Kolose, yang secara berkala dinyanyikan dalam Ibadat Sore, Gereja ambil bagian bersama Paulus dalam mengungkapkan kekaguman itu. Allah telah bertindak, Ia menyelamatkan kita dari dosa, dan Yesus Kristus menaklukkan segalanya bagi Allah berkat darah salib-Nya.
Inilah pertempuran penentuan yang membuat Kristus menang. Ia memenangkan alam semesta dalam darah-Nya di salib. Karena itu tidak heran, Injil hari ini menampakkan Yesus Sang Raja yang sedang bertahta. Salib adalah takhta-Nya, paku-paku adalah harta-Nya, mahkota duri adalah mahkota kemuliaan-Nya, para penjahat dan pendosa pendamping-Nya, luka sekujur tubuh adalah perhiasan-Nya.
Sang Raja menang mulia, karena salib.
Dan dalam Injil ini, gambaran Allah, Hakim yang Agung memperlihatkan sisi-Nya yang begitu dekat dengan kita. Ia dekat dengan kita dalam penderitaan, dalam kesesakan kita, dan ia berbelas kasihan pada kita. Sekaligus sebuah pernyataan, bahwa jika Raja segala Raja memeluk penderitaan manusia, kita pun harus siap mengikuti Dia dalam penderitaan.
Sukacita kita dijanjikan, sehingga kita dapat bersorak-sorai seperti pemazmur dan bersama seluruh isi surga dalam kitab Wahyu. Itulah kemuliaan kita, yang menanti kita, dan jalan menuju kemuliaan itu adalah jalan salib yang sudah ditapaki Yesus.
Lalu apa refrain terakhir dari ini semua? Datangnya Kerajaan Allah, Yerusalem yang baru. Dan di dalamnya kita akan hidup bersama Allah selama-lamanya, dimana segalanya diperbarui dan kita akan memandang Dia muka dengan muka.
Kita mengantisipasi Yerusalem yang baru dan hidup berhadapan muka dengan Allah sudah dalam perayaan kita di bumi ini, saat ini, ketika kita menyambut Yesus dalam komuni. Ketika kita bersatu dengan Dia, secara istimewa.
Sungguh tepat Antifon Komuni kita hari ini yang berseru: "Tuhan akan bertakhta sebagai raja selama-lamanya. Tuhan akan memberkati umat-Nya dengan damai." (Mzm 29:10-11)
Apa yang dilihat Yohanes, sudah kita alami dalam Ekaristi: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka." (Why 21:3), sangat tepat menggemakan Mzm 29 yang kita dengarkan dalam komuni hari ini.
Inilah pemandangan liturgi yang disajikan kepada kita hari ini, pada Hari Raya Kristus Raja.
Secara praktis lansekap liturgi yang dirayakan menentukan bagaimana kita menentukan dan mencari lagu yang tepat untuk mendukung tersampaikannya pesan liturgi hari itu kepada kita.
Dalam Ordo Cantus Missae, sangat ditekankan "Nyanyian yang memiliki relasi dekat dangan bacaan, tentunya, selayaknya digunakan untuk bacaan-bacaan ini."(Ordo Cantus Missae 19).
Dalam ekshortasi pasca sinode umum para uskup ke-12, Paus kita berkata: "Untuk menekankan sabda Allah dalam liturgi, perhatian harus diberikan terhadap penggunaan lagu pada saat yang diberikan sesuai ritus partikular. Lagu utamanya dipilih yang memiliki inspirasi biblis dan yang mengekspresikan, melalui harmoni musik dan nada, keindahan sabda Allah." (Verbum Domini 70).
Jadi kriteria nyanyian, utamanya mendukung pewartaan Sabda Allah.
Keberatan yang sering disampaikan tentunya, bagaimana dengan partisipasi umat?
Sebenarnya partisipasi umat dalam nyanyian Liturgi memiliki beberapa jenjang:
Yang pertama dan terpenting dikuasai umat adalah dialog antara imam dan umat dan yang dibawakan oleh imam dan umat bersama-sama, dengan di sekitarnya ditambahkan bagian-bagian yang dibawakan oleh umat saja atau kor (Instruksi tentang Musik dalam Liturgi no. 7, Sacred Conggregation of Rites, 1967).
Jadi pada selalu ada tempat untuk kor dan selalu ada kesempatan bagi umat untuk ambil bagian aktif dalam liturgi tanpa perlu ikut menyanyi.
Buku Jubilate Deo, bagian pertama, Cantus Missae, yang disusun atas inisiatif Paus Paulus VI, memberikan repertoir minimum yang harus dikuasai umat:
Beberapa seleksi nyanyian ordinarium Gregorian sederhana, Credo, Bapa Kami, Anamnesis, dan seluruh dialog antara imam dan umat.
Setelah melewati Hari Raya Kristus Raja, kita menyongsong Masa Adven, masa penantian, yang selalu bermakna ganda: Kita menantikan (memperingati) kedatangan pertama Yesus ke dunia sebagai anak, dan kita menantikan kedatangan kedua-Nya sebagai Raja Agung yang kita rayakan pada Hari Raya Kristus Raja.
Selamat menjelang detik-detik tahun baru liturgi.
Dalam kehidupan liturgi, Gereja secara hati-hati membawa kepada umat berbagai gambaran Allah dalam sejarah keselamatan. Dan sering kali, kita dikejutkan oleh gambaran yang Allah yang kurang kita kenal, atau tidak berusaha untuk kenal. Namun disinilah kebijaksanaan Gereja bersinar. Lewat tahun liturgi kita berjumpa dengan diri Allah sebagaimana diwartakan Kitab Suci.
Menjelang Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Gereja mengajak kita bertatap muka dengan pribadi Allah dalam Yesus Kristus secara istimewa.
Liturgi hari ini dibuka dengan Introit yang langsung memberikan tenor perayaan, diambil dari Kitab Wahyu:
"Pantaslah Anak Domba yang disembelih itu menerima kuasa dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan dah hormat. Bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya." (Wahyu 5:12; 1:6).
Kita yang bergaul cukup banyak dengan Kitab Wahyu pasti teringat adegan sangat dramatis yang menjadi konteks kutipan tersebut. Deru kilat dan guntur memenuhi surga, 24 tua-tua duduk di atas takhta, 4 makhluk ilahi masing-masing berkepala burung nasar, singa, lembu dan manusia bersorak tak henti, "kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang."(Wahyu 4:8) di hadapan takhta Allah.
Kemudian Dia yang duduk di takhta itu menyerahkan sebuah kitab yang disegel dengan 7 meterai. Tiada yang dapat membukanya baik di surga dan dibumi. Sampai datang, Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk dan bermata tujuh. Ketika Anak Domba itu mengambil gulungan kitab itu seluruh isi surga tersungkur di hadapan Anak Domba itu, melagukan pujian. Dan kemudian bergemalah, introit yang kita dengar pada awal Misa Kristus Raja: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian! Bagi Dia yang Duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin!" (Why 5:11,13,14).
Sabda Allah ini sudah menghempaskan kita ke suatu kenyataan yang luar biasa. Suatu keagungan dan kemegahan, suatu kengerian, sebab Anak Domba itu akan datang untuk menjadi pemenang, Ia akan mengadili semua makhluk dan akan menaklukkan segalanya, termasuk maut dibawah kaki-Nya.
Gereja mengajak kita bertemu dengan Anak Domba yang hidup walau sudah disembelih, bermata tujuh, bertanduk tujuh, yang membuat seluruh surga tersungkur, dan yang akan menjadi penakluk sejati. Kita bertemu dengan Allah yang perkasa, Hakim yang tertinggi.
Gambaran Allah seperti itu mampu membangkitkan bulu kuduk dan membuat kita tersungkur takut. Namun, Mazmur hari ini juga mengungkapkan kegembiraan, Mazmur 122, yang berseru: "Aku bersukacita ketika dikatakan orang kepadaku, 'Mari kita pergi ke rumah TUHAN.'...sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud." (Mzm 122:1,5).
Mengapa ada sorak gembira? Apalagi kegembiraan itu karena pengadilan! Bagi kita benar-benar alasan yang aneh untuk bergembira. Kita biasa bergembira karena hiburan, persahabatan, pertemanan, kumpul-kumpul, pesta dan kebersamaan. Tetapi bersukacita karena kursi pengadilan?
Namun bisa kita bayangkan ini adalah sorak-sorai umat Allah yang ditebus, kitalah umat yang ditebus itu! Sudah tiba saatnya Allah meraja, menjatuhkan para pendakwa kita, memberi keadilan bagi umat-Nya, membuat dunia menanggung darah umat Allah yang telah mereka tumpahkan. "Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, sebab besar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu." (Why 19:1-2).
Dalam bacaan kedua, Paulus mengungkapkan kekagumannya atas karya keselamatan Allah itu. Dalam apa yang dikenal Gereja sebagai Kidung Kolose, yang secara berkala dinyanyikan dalam Ibadat Sore, Gereja ambil bagian bersama Paulus dalam mengungkapkan kekaguman itu. Allah telah bertindak, Ia menyelamatkan kita dari dosa, dan Yesus Kristus menaklukkan segalanya bagi Allah berkat darah salib-Nya.
Inilah pertempuran penentuan yang membuat Kristus menang. Ia memenangkan alam semesta dalam darah-Nya di salib. Karena itu tidak heran, Injil hari ini menampakkan Yesus Sang Raja yang sedang bertahta. Salib adalah takhta-Nya, paku-paku adalah harta-Nya, mahkota duri adalah mahkota kemuliaan-Nya, para penjahat dan pendosa pendamping-Nya, luka sekujur tubuh adalah perhiasan-Nya.
Sang Raja menang mulia, karena salib.
Dan dalam Injil ini, gambaran Allah, Hakim yang Agung memperlihatkan sisi-Nya yang begitu dekat dengan kita. Ia dekat dengan kita dalam penderitaan, dalam kesesakan kita, dan ia berbelas kasihan pada kita. Sekaligus sebuah pernyataan, bahwa jika Raja segala Raja memeluk penderitaan manusia, kita pun harus siap mengikuti Dia dalam penderitaan.
Sukacita kita dijanjikan, sehingga kita dapat bersorak-sorai seperti pemazmur dan bersama seluruh isi surga dalam kitab Wahyu. Itulah kemuliaan kita, yang menanti kita, dan jalan menuju kemuliaan itu adalah jalan salib yang sudah ditapaki Yesus.
Lalu apa refrain terakhir dari ini semua? Datangnya Kerajaan Allah, Yerusalem yang baru. Dan di dalamnya kita akan hidup bersama Allah selama-lamanya, dimana segalanya diperbarui dan kita akan memandang Dia muka dengan muka.
Kita mengantisipasi Yerusalem yang baru dan hidup berhadapan muka dengan Allah sudah dalam perayaan kita di bumi ini, saat ini, ketika kita menyambut Yesus dalam komuni. Ketika kita bersatu dengan Dia, secara istimewa.
Sungguh tepat Antifon Komuni kita hari ini yang berseru: "Tuhan akan bertakhta sebagai raja selama-lamanya. Tuhan akan memberkati umat-Nya dengan damai." (Mzm 29:10-11)
Apa yang dilihat Yohanes, sudah kita alami dalam Ekaristi: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka." (Why 21:3), sangat tepat menggemakan Mzm 29 yang kita dengarkan dalam komuni hari ini.
Inilah pemandangan liturgi yang disajikan kepada kita hari ini, pada Hari Raya Kristus Raja.
Secara praktis lansekap liturgi yang dirayakan menentukan bagaimana kita menentukan dan mencari lagu yang tepat untuk mendukung tersampaikannya pesan liturgi hari itu kepada kita.
Dalam Ordo Cantus Missae, sangat ditekankan "Nyanyian yang memiliki relasi dekat dangan bacaan, tentunya, selayaknya digunakan untuk bacaan-bacaan ini."(Ordo Cantus Missae 19).
Dalam ekshortasi pasca sinode umum para uskup ke-12, Paus kita berkata: "Untuk menekankan sabda Allah dalam liturgi, perhatian harus diberikan terhadap penggunaan lagu pada saat yang diberikan sesuai ritus partikular. Lagu utamanya dipilih yang memiliki inspirasi biblis dan yang mengekspresikan, melalui harmoni musik dan nada, keindahan sabda Allah." (Verbum Domini 70).
Jadi kriteria nyanyian, utamanya mendukung pewartaan Sabda Allah.
Keberatan yang sering disampaikan tentunya, bagaimana dengan partisipasi umat?
Sebenarnya partisipasi umat dalam nyanyian Liturgi memiliki beberapa jenjang:
Yang pertama dan terpenting dikuasai umat adalah dialog antara imam dan umat dan yang dibawakan oleh imam dan umat bersama-sama, dengan di sekitarnya ditambahkan bagian-bagian yang dibawakan oleh umat saja atau kor (Instruksi tentang Musik dalam Liturgi no. 7, Sacred Conggregation of Rites, 1967).
Jadi pada selalu ada tempat untuk kor dan selalu ada kesempatan bagi umat untuk ambil bagian aktif dalam liturgi tanpa perlu ikut menyanyi.
Buku Jubilate Deo, bagian pertama, Cantus Missae, yang disusun atas inisiatif Paus Paulus VI, memberikan repertoir minimum yang harus dikuasai umat:
Beberapa seleksi nyanyian ordinarium Gregorian sederhana, Credo, Bapa Kami, Anamnesis, dan seluruh dialog antara imam dan umat.
Setelah melewati Hari Raya Kristus Raja, kita menyongsong Masa Adven, masa penantian, yang selalu bermakna ganda: Kita menantikan (memperingati) kedatangan pertama Yesus ke dunia sebagai anak, dan kita menantikan kedatangan kedua-Nya sebagai Raja Agung yang kita rayakan pada Hari Raya Kristus Raja.
Selamat menjelang detik-detik tahun baru liturgi.
Rabu, 03 November 2010
Lagu dalam Liturgi
Mungkin bagi yang ikut Retret Destination Confirmed 2010 kemarin, ada yang terkejut ketika mendengar Antifon Komuni dinyanyikan.
Ada juga yang menanyakan, apa sih itu? Apa bedanya dengan lagu yang biasa dinyanyikan saat Misa?
Mungkin agak mengejutkan tetapi karakteristik Liturgi Ekaristi Romawi sangat minim madah/lagu, tetapi kaya akan kutipan Mazmur yang dinyanyikan berwujud ulangan dan ayat.
Seperti juga doa pembukaan, doa persiapan persembahan dan doa penutup yang sudah baku untuk tiap hari sepanjang tahun, demikian juga sebenarnya nyanyian liturgis dalam Misa.
Untuk tiap hari, sudah dirumuskan teks nyanyian yang berupa kutipan Kitab Suci, yang sangat berkaitan dengan bacaan hari itu, yaitu: Introit (pembukaan), Graduale (antifon tanggapan) yang sepadan dengan Mazmur Tanggapan, Bait Pengantar Injil, Sekwensia (untuk hari raya tertentu), Offertorium (persiapan persembahan), dan Communio (komuni).
Dari kalimat pertama Introit, biasanya kita menamai Misa dalam tahun Liturgi. Misalnya, Minggu Gaudete pada Minggu III Adven, diambil dari kalimat pertama Introit Minggu III Adven: "Gaudete in Domino semper: iterum dico, gaudete...", yang artinya: Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, kukatakan sekali lagi bersukacitalah. Yang merupakan teks dari Filipi 4:4-5.
Pada pelaksanaan Misa extraordinaria, yang juga dirayakan oleh Gereja disamping Misa Paus Paulus VI yang biasa dirayakan dan kita kenal, bagian-bagian ini tidak boleh dilewatkan imam dan harus didoakan imam selain dinyanyikan umat/koor.
Nyanyian Liturgi sepanjang tahun ini diterbitkan sebagai buku yang disebut Graduale Romanum.
Namun karena sering kali ditemukan nada-nada kompleks yang sulit dinyanyikan koor/jemaat yang tidak punya paduan suara yang baik, diterbitkan juga Graduale Simplex, yaitu Nyanyian Gradual sederhana yang dapat dipakai sepanjang tahun.
Jika tidak dinyanyikan, untuk tiap perayaan Misa ada yang disebut Antifon (Pembukaan-Komuni), yang menurut ketentuan dibacakan oleh umat/imam. Karena teksnya untuk dibacakan, bisa sedikit berbeda dengan teks dari Graduale Romanum, namun umumnya teksnya sama. Misalnya, untuk Hari Raya Kristus Raja, baik Introit maupun Antifon Pembukaan diambil dari Why 5:12,1:6.
Lalu, mengapa sekarang sepertinya umat bahkan tidak tahu bahwa normatifnya nyanyian dalam Misa sebenarnya bagian dari Teks Liturgi yang sudah ditentukan?
Malahan timbul salah kaprah bahwa bagian-bagian dalam Misa yang biasa diisi lagu, merupakan selingan yang bisa diganti atau dipilih lagu sesuka hati. Misa perkawinan misalnya.
Ada beberapa sebab:
1. Terjadinya pengembangan Leksionari, yang tadinya berulang setiap setahun, menjadi 3 tahun (Tahun A, B, C). Ini diterbitkan lebih dulu selagi Graduale Romanum diekspansi menjadi masa liturgi 3 tahun. Akibatnya timbul kekosongan.
2. Undangan bagi para musisi untuk menelurkan lagu-lagu baru, ditambah panggilan untuk inkulturasi.
3. Kekacauan interpretasi untuk keterbukaan terhadap dunia atas nama "Semangat Konsili Vatikan II."
4. Penggunaan bahasa setempat.
5. Provisio dalam Pedoman Umum Misale Romawi, yang mengatakan:
....Nyanyian tersebut dapat berupa mazmur dengan antifonnya yang di ambil dari Graduale Romanum atau dari Graduale Simplex. Tetapi boleh juga digunakan nyanyian lain yang sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, asal teksnya disahkan oleh Konferensi Uskup. (Pedoman Umum Misale Romawi 48)
Provisio lagu lain ini utamanya ditujukan bagi Konferensi Waligereja untuk melakukan penterjemahan dan inkulturasi Graduale, dan memacu para pemusik untuk menghasilkan karya lagu liturgis, yang itupun harus disahkan oleh Konferensi Waligereja setempat untuk menjamin teks dan nada, sesuai dengan kaidah Liturgi.
Dalam kekosongan teks Graduale dalam bahasa lokal, bahasa Latin ditinggalkan sama sekali demi bahasa setempat (walaupun Pedoman Umum Misale Romawi mengatakan bahwa Nyanyian Gregorian dan bahasa Latin menempati tempat terhormat dan umat dihimbau untuk tidak sama sekali buta terhadap teks Latin yang umum), dan semangat menggebu-gebu untuk usaha inkulturisasi, kekosongan ini diisi oleh lagu-lagu yang awalnya eksperimentatif, tapi kemudian menjadi permanen karena kebiasaan. Sementara itu, Graduale tidak pernah diterjemahkan. Di Indonesia, yang sukses diinkulturisasikan barulah Mazmur Tanggapan.
Dari sini timbul pemikiran bahwa semua lagu boleh digunakan.
Di sini perlu diperhatikan bahwa tidak semua lagu rohani adalah lagu Liturgis.
Mudahnya, nyanyian/lagu Liturgis adalah doa-doa Liturgi/Ibadat yang dinyanyikan, dan mengindahkan peraturan-peraturan menurut Tradisi dan Tertib Gerejawi.
Lagu liturgis adalah lagu rohani yang khusus. Dan adalah tugas Konferensi Waligereja untuk memastikan bahwa hanya lagu dan teks liturgis yang diperbolehkan untuk perayaan Liturgi.
Namun kecenderungan umat sekarang ini, adalah memasukkan lagu-lagu rohani apapun, bahkan lagu-lagu non-rohani ke dalam perayaan Liturgi. Padahal ini secara langsung bertentangan dengan tertib Gerejani (lihat Konstitusi tentang Musik di dalam Liturgi, Musicam Sacram).
Atas berbagai pertimbangan ini, saya mengusahakan untuk menggunakan kesempatan diberi tanggung jawab membantu jalannya perayaan Ekaristi dengan berusaha menggunakan pilihan lagu liturgis yang ada, dan menggunakan teks dari Antifon yang diseting ke dalam nada Mazmur dari Graduale Romanum (menggunakan nada yang lebih sederhana).
Penggunaan lagu-lagu yang biasa digunakan dalam Persekutuan Doa, saya batasi di luar perayaan Ekaristi (sebagai conditioning sebelum Misa dan pada akhir Misa). Penggunaan dalam Ekaristi sendiri saya batasi sebagai pilihan terakhir, itupun saya batasi lagi dari buku Kidung Syukur yang setidaknya mendapat persetujuan eksperimental dari KAJ.
Bukannya saya anti dengan lagu-lagu rohani populer, tetapi saya berusaha bertanggungjawab menempatkannya di tempat yang tepat berbekal informasi yang saya miliki.
Yang kedua karena saya melihat adanya potensi bahwa ini bisa dilakukan, baik oleh para singer dan pemusik, dan dukungan dari Romo Deshi dan Riko.
Semoga perayaan Ekaristi yang kita rayakan, justru menjadi sekolah yang membentuk kita, dan membuat kita lebih peka mendengarkan Firman Tuhan lewat Nyanyian Liturgis yang hampir semuanya adalah kutipan-kutipan Kitab Suci yang dinyanyikan.
Ada juga yang menanyakan, apa sih itu? Apa bedanya dengan lagu yang biasa dinyanyikan saat Misa?
Mungkin agak mengejutkan tetapi karakteristik Liturgi Ekaristi Romawi sangat minim madah/lagu, tetapi kaya akan kutipan Mazmur yang dinyanyikan berwujud ulangan dan ayat.
Seperti juga doa pembukaan, doa persiapan persembahan dan doa penutup yang sudah baku untuk tiap hari sepanjang tahun, demikian juga sebenarnya nyanyian liturgis dalam Misa.
Untuk tiap hari, sudah dirumuskan teks nyanyian yang berupa kutipan Kitab Suci, yang sangat berkaitan dengan bacaan hari itu, yaitu: Introit (pembukaan), Graduale (antifon tanggapan) yang sepadan dengan Mazmur Tanggapan, Bait Pengantar Injil, Sekwensia (untuk hari raya tertentu), Offertorium (persiapan persembahan), dan Communio (komuni).
Dari kalimat pertama Introit, biasanya kita menamai Misa dalam tahun Liturgi. Misalnya, Minggu Gaudete pada Minggu III Adven, diambil dari kalimat pertama Introit Minggu III Adven: "Gaudete in Domino semper: iterum dico, gaudete...", yang artinya: Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, kukatakan sekali lagi bersukacitalah. Yang merupakan teks dari Filipi 4:4-5.
Pada pelaksanaan Misa extraordinaria, yang juga dirayakan oleh Gereja disamping Misa Paus Paulus VI yang biasa dirayakan dan kita kenal, bagian-bagian ini tidak boleh dilewatkan imam dan harus didoakan imam selain dinyanyikan umat/koor.
Nyanyian Liturgi sepanjang tahun ini diterbitkan sebagai buku yang disebut Graduale Romanum.
Namun karena sering kali ditemukan nada-nada kompleks yang sulit dinyanyikan koor/jemaat yang tidak punya paduan suara yang baik, diterbitkan juga Graduale Simplex, yaitu Nyanyian Gradual sederhana yang dapat dipakai sepanjang tahun.
Jika tidak dinyanyikan, untuk tiap perayaan Misa ada yang disebut Antifon (Pembukaan-Komuni), yang menurut ketentuan dibacakan oleh umat/imam. Karena teksnya untuk dibacakan, bisa sedikit berbeda dengan teks dari Graduale Romanum, namun umumnya teksnya sama. Misalnya, untuk Hari Raya Kristus Raja, baik Introit maupun Antifon Pembukaan diambil dari Why 5:12,1:6.
Lalu, mengapa sekarang sepertinya umat bahkan tidak tahu bahwa normatifnya nyanyian dalam Misa sebenarnya bagian dari Teks Liturgi yang sudah ditentukan?
Malahan timbul salah kaprah bahwa bagian-bagian dalam Misa yang biasa diisi lagu, merupakan selingan yang bisa diganti atau dipilih lagu sesuka hati. Misa perkawinan misalnya.
Ada beberapa sebab:
1. Terjadinya pengembangan Leksionari, yang tadinya berulang setiap setahun, menjadi 3 tahun (Tahun A, B, C). Ini diterbitkan lebih dulu selagi Graduale Romanum diekspansi menjadi masa liturgi 3 tahun. Akibatnya timbul kekosongan.
2. Undangan bagi para musisi untuk menelurkan lagu-lagu baru, ditambah panggilan untuk inkulturasi.
3. Kekacauan interpretasi untuk keterbukaan terhadap dunia atas nama "Semangat Konsili Vatikan II."
4. Penggunaan bahasa setempat.
5. Provisio dalam Pedoman Umum Misale Romawi, yang mengatakan:
....Nyanyian tersebut dapat berupa mazmur dengan antifonnya yang di ambil dari Graduale Romanum atau dari Graduale Simplex. Tetapi boleh juga digunakan nyanyian lain yang sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, asal teksnya disahkan oleh Konferensi Uskup. (Pedoman Umum Misale Romawi 48)
Provisio lagu lain ini utamanya ditujukan bagi Konferensi Waligereja untuk melakukan penterjemahan dan inkulturasi Graduale, dan memacu para pemusik untuk menghasilkan karya lagu liturgis, yang itupun harus disahkan oleh Konferensi Waligereja setempat untuk menjamin teks dan nada, sesuai dengan kaidah Liturgi.
Dalam kekosongan teks Graduale dalam bahasa lokal, bahasa Latin ditinggalkan sama sekali demi bahasa setempat (walaupun Pedoman Umum Misale Romawi mengatakan bahwa Nyanyian Gregorian dan bahasa Latin menempati tempat terhormat dan umat dihimbau untuk tidak sama sekali buta terhadap teks Latin yang umum), dan semangat menggebu-gebu untuk usaha inkulturisasi, kekosongan ini diisi oleh lagu-lagu yang awalnya eksperimentatif, tapi kemudian menjadi permanen karena kebiasaan. Sementara itu, Graduale tidak pernah diterjemahkan. Di Indonesia, yang sukses diinkulturisasikan barulah Mazmur Tanggapan.
Dari sini timbul pemikiran bahwa semua lagu boleh digunakan.
Di sini perlu diperhatikan bahwa tidak semua lagu rohani adalah lagu Liturgis.
Mudahnya, nyanyian/lagu Liturgis adalah doa-doa Liturgi/Ibadat yang dinyanyikan, dan mengindahkan peraturan-peraturan menurut Tradisi dan Tertib Gerejawi.
Lagu liturgis adalah lagu rohani yang khusus. Dan adalah tugas Konferensi Waligereja untuk memastikan bahwa hanya lagu dan teks liturgis yang diperbolehkan untuk perayaan Liturgi.
Namun kecenderungan umat sekarang ini, adalah memasukkan lagu-lagu rohani apapun, bahkan lagu-lagu non-rohani ke dalam perayaan Liturgi. Padahal ini secara langsung bertentangan dengan tertib Gerejani (lihat Konstitusi tentang Musik di dalam Liturgi, Musicam Sacram).
Atas berbagai pertimbangan ini, saya mengusahakan untuk menggunakan kesempatan diberi tanggung jawab membantu jalannya perayaan Ekaristi dengan berusaha menggunakan pilihan lagu liturgis yang ada, dan menggunakan teks dari Antifon yang diseting ke dalam nada Mazmur dari Graduale Romanum (menggunakan nada yang lebih sederhana).
Penggunaan lagu-lagu yang biasa digunakan dalam Persekutuan Doa, saya batasi di luar perayaan Ekaristi (sebagai conditioning sebelum Misa dan pada akhir Misa). Penggunaan dalam Ekaristi sendiri saya batasi sebagai pilihan terakhir, itupun saya batasi lagi dari buku Kidung Syukur yang setidaknya mendapat persetujuan eksperimental dari KAJ.
Bukannya saya anti dengan lagu-lagu rohani populer, tetapi saya berusaha bertanggungjawab menempatkannya di tempat yang tepat berbekal informasi yang saya miliki.
Yang kedua karena saya melihat adanya potensi bahwa ini bisa dilakukan, baik oleh para singer dan pemusik, dan dukungan dari Romo Deshi dan Riko.
Semoga perayaan Ekaristi yang kita rayakan, justru menjadi sekolah yang membentuk kita, dan membuat kita lebih peka mendengarkan Firman Tuhan lewat Nyanyian Liturgis yang hampir semuanya adalah kutipan-kutipan Kitab Suci yang dinyanyikan.
Langganan:
Postingan (Atom)