Tampilkan postingan dengan label Lagu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lagu. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Agustus 2012
Dari Pilihan Lagu menuju Makna Terdalam Liturgi
Semua lagu liturgi adalah lagu rohani. Tapi tidak semua lagu rohani adalah lagu liturgi. Sementara itu, lagu-lagu untuk perayaan liturgi, aturannya hanya menggunakan lagu-lagu liturgi.
Lagu liturgi itu apa cirinya? Pertama-tama, paling sederhananya, lagu liturgi adalah teks liturgi yang dinyanyikan.
Teks liturgi dibuat sangat hati-hati atau secara historis memiliki muatan teologis. Jadi bukan sekedar indah. Karena liturgi memiliki 2 tujuan: mengajar sekaligus menyembah Allah.
Analoginya adalah Mazmur dan madah-madah Kitab Suci. Mendaraskan madah-madah ini tidak lain dan tidak bukan memuji Allah sendiri dengan teks yang diinspirasi oleh Roh Kudus. Tapi pada saat bersamaan, mendaraskan/menyanyikan teks ini berarti juga membiarkan Allah bicara dan mengajar kita melalui teks-teks ini.
Pada saat bersamaan, teks liturgi yang disusun Gereja, didsaraskan para kudus dari zaman ke zaman, bertahan melalui berbagai rintangan penindasan dan kesesatan, merupakan karya Roh Kudus dalam Gereja, dan mendaraskan/menyanyikannya kita memuji Allah bersama seluruh Gereja. Tapi pada saat bersamaan, teks ini memiliki muatan dogmatis yang kuat, yang bertujuan mengajar umat beriman akan iman yang benar.
Karena itu, aturan liturgi, misalnya dalam Pedoman Umum Misale Romawi, melarang teks ini diganti dengan apapun. Gereja lebih memilih teks ini didaraskan daripada diganti lagu lain.
Kalau dilagukan, maka musik menjadi hamba teks. Teks harus utuh, musik harus mendukung keindahannya. Tapi mengubah teks demi disesuaikan dengan lagu, dilarang.
Karena itu dalam terang Pedoman Umum Misale Romawi terbaru dan Redemptoris Sacramentum dari Tahta Suci, lagu-lagu liturgis, bahkan yang ada dalam Puji Syukur tidak semuanya bisa dipakai. Lagu yang teksnya mengubah teks liturgis yang ada dalam Misale tidak bisa dipakai.
Semua itu bisa dipakai di luar konteks Misa. Misalnya ibadat sabda, ibadat-ibadat lingkungan dsbnya.
Lagu-lagu rohani kontemporer, pada definisinya termasuk lagu-lagu rohani devosional. Devosi bisa lebih bersifat personal, lebih "ngangkat", lebih "manis," "menyenangkan" dan "hangat." Tetapi devosi dan liturgi, walaupun saling mendukung, memiliki tempat dan porsinya masing-masing.
Selalu ada tempat bagi devosi di luar Liturgi. Namun tujuan akhir devosi harus selalu menjadi persiapan untuk masuk ke dalam liturgi dengan lebih matang, kuat dan dalam.
Yang jadi problem adalah ketika devosi mulai mengerosi liturgi. Ketika ini dilakukan dalam jangka panjang, masalah terjadi.
Liturgi yang merupakan puncak kehidupan rohani menjadi dipahami dengan dangkal.
Sentimen devosional menjadi sesuatu yang dicari, sementara misteri dalam liturgi menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa dipahami.
Lingkaran setan pun dimulai, liturgi mulai dirombak untuk berbagai sentimen devosional.
Ditambah lagi dalam situasi umat sekarang, dimana Misa bisa jadi menjadi satu-satunya saat beribadah bagi banyak orang, semua sentimen devosional itu hendak dijejalkan ke dalam liturgi. Satu jam seminggu, kita jejalkan segala hal yang harusnya dibangun perlahan dalam kehidupan rohani sehari-hari, ke dalam liturgi.
Akhirnya bisa ditebak. Liturgi gagal menjadi puncak kehidupan rohani. Sentimen devosional bertabrakan dengan maksud liturgi dan terasa "canggung." Akhirnya tetap saja umat lari ke "seberang sungai." Liturgi pada akhirnya tetap jadi kambing hitam sebagai "oknum jahat" yang perlu direnovasi.
Kalau pake istilah Paulus, ada saatnya kita makan makanan yang ringan, manis, enak, dingin macam devosi-devosi. Tapi makanan yang keras, kita perlukan juga. Dan harus diakui, liturgi itu keras, disiplin, dan kontennya tidak senantiasa "manis" didengar.
Itu sebabnya, katekese liturgi sangat penting. Liturgi bagi Gereja adalah warisan dan tugas mulia untuk dijalankan. Liturgi adalah "Opus Dei" yang dipercayakan Allah kepada Gereja untuk menguduskan dunia dan sejarah. Liturgi adalah partisipasi nyata Gereja dalam Liturgi Ilahi yang dilaksanakan Kristus sendiri dalam Bait Allah Surgawi.
Sedemikian dalamnya, beratnya, mulianya dan besarnya kehormatan yang diterima Gereja untuk melaksanakan Liturgi, yang mampu mengangkat dunia ke surga, sehingga tanpanya Gereja tidak lebih dari sekumpulan organisasi sosial tanpa kuasa surgawi.
Devosi memupuk hubungan pribadi kita dengan Allah.
Tapi liturgi adalah mobilisasi umat Allah menggerakkan sejarah dan menguduskan dunia.
Teologi dibalik masing-masing harus dipahami untuk mendapat perspektif pastoral yang tepat.
Rabu, 17 November 2010
Let All Mortal Flesh Keep Silence
Madah ini adalah madah Ekaristi, dinyanyikan pada persiapan persembahan, dikenal juga sebagai madah Kerubim (Cherubikon) dalam Liturgi Ilahi Santo Yakobus dari abad ke-4 Masehi, yang masih dirayakan utamanya oleh Gereja-gereja Timur dari tradisi Oriental.
Pada tahun 1906, Ralph Vaughan Williams, mengadaptasi teks ini menurut melodi tradisional Perancis, Picardy, dan menjadikannya populer di kalangan gereja-gereja yang liturgis, termasuk dalam Gereja Katolik, dan menjadi sebuah himne klasik.
Pada tahun 1906, Ralph Vaughan Williams, mengadaptasi teks ini menurut melodi tradisional Perancis, Picardy, dan menjadikannya populer di kalangan gereja-gereja yang liturgis, termasuk dalam Gereja Katolik, dan menjadi sebuah himne klasik.
| Inggris | Indonesia |
|---|---|
| Let all mortal flesh keep silence, And with fear and trembling stand; Ponder nothing earthly minded, For with blessing in His hand, Christ our God to earth descendeth, Our full homage to demand. King of kings, yet born of Mary, As of old on earth He stood, Lord of lords, in human vesture, In the body and the blood; He will give to all the faithful His own self for heavenly food. Rank on rank the host of heaven Spreads its vanguard on the way, As the Light of light descendeth From the realms of endless day, That the powers of hell may vanish As the darkness clears away. At His feet the six winged seraph, Cherubim with sleepless eye, Veil their faces to the presence, As with ceaseless voice they cry: Alleluia, Alleluia Alleluia, Lord Most High! | biar semua makhluk fana terdiam berdiri dan gentar jangan berpikir soal dunia karena Kristus telah datang dengan membawa berkat di tangan-Nya mari kita sembah sujud Raja atas segala raja lahir dari Maria Ia hidup di dunia dengan tubuh dan darah kepada umat-Nya kan Ia berikan diri-Nya sebagai santapan Balatentara surgawi memberi jalan dengan hormat ketika Sang Terang dari terang turun dari alam ilahi agar neraka musnah dilucuti dan kegelapan pun undur serafim ada di kaki-Nya kerubim yang tak pernah terpejam menyembunyikan wajah mereka dihadapan hadirat-Nya dengan tak henti mereka berseru Alleluya, Yang Maha Tinggi |
Voluntati Obsequens
Pada tanggal 14 April 1974, Kongregasi Ibadat Suci (Kongregasi untuk Ibadat dan Disiplin Sakramen) menerbitkan sebuah buku lagu yang diberi judul Jubilate Deo.
Buku Jubilate Deo berisi repertoir Gregorian minimum yang diharapkan dikuasai oleh umat Katolik, sesuai harapan Bapa Suci Paulus VI, agar umat Katolik mengenal beberapa repertoir Gregorian Latin.
Buku kumpulan lagu ini dipersembahkan Gereja kepada umat Katolik sebagai hadiah khusus dari Bapa Suci, mewujudkan amanat Konsili Vatikan II, yang dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci no. 54, mengatakan: "Tetapi hendaknya diusahakan, supaya kaum beriman dapat bersama-sama mengucapkan atau menyayikan dalam bahasa latin juga bagian-bagian Misa yang tetap yang menyangkut mereka."
Walaupun nyanyian dalam bahasa setempat baik dan didukung, namun "repertoir minimum nyanyian Gregorian ini disiapkan dengan satu tujuan: agar umat Kristen lebih dimudahkan untuk mencapai kesatuan dan harmoni spiritual dengan saudara-saudara mereka dan dengan tradisi hidup masa lalu. Karena itu mereka yang berusaha meningkatan kualitas nyanyian kongregasional (red: dinyanyikan bersama seluruh umat) tidak boleh menolak memberikan tempat yang selayaknya diduduki nyanyian Gregorian." (Voluntati Obsequens)
Dan untuk mendukung amanat ini, Kongregasi Ibadat Suci membuat buku Jubilate Deo gratis untuk direproduksi dan dikopi.
Nyanyian apa saja yang ada di dalam buku tersebut?
Buku tersebut dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama, Cantus Missae, berisi nyanyian-nyanyian yang umum dalam Misa. Terdiri dari:
1. Kyrie XVI
2. Gloria VIII (De Angelis). Terdapat juga dalam Puji Syukur 343
3. Nyanyian tanggapan bacaan I dan II: Verbum Domini - Deo gratias (Demikianlah sabda Tuhan - Syukur kepada Allah)
4. Dua Alleluya sederhana
5. Pengantar bacaan Injil: Dominus vobiscum - Et cum spiritu tuo- Lectio sancti Evangelii secundum N. - Gloria tibi Domine (Tuhan bersamamu - Dan bersama rohmu - Inilah Injil Yesus Kristus menurut N. - Dimuliakanlah Tuhan)
6. Nyanyian tanggapan Injil: Verbum Domini - Laus tibi Christe (Demikianlah sabda Tuhan - Terpujilah Kristus)
7. Credo III. Terdapat juga dalam Puji Syukur 374.
8. Tanggapan terhadap intensi doa umat: Te rogamus, audi nos (kami mohon kepada-Mu, dengarkanlah kami).
9. Dialog pembuka Prefasi
10. Sanctus XVIII. Terdapat juga dalam Puji Syukur 388.
11. Anamnesis.
12. Doksologi penutup Doa Syukur Agung.
13. Bapa Kami. Terdapat juga dalam Puji Syukur 402.
14. Dialog ritus damai.
15. Agnus Dei XVIII. Terdapat juga dalam Puji Syukur 409.
16. Pembubaran umat.
Bagian kedua, Cantus Varii, berisi nyanyian-nyanyian Gregorian untuk berbagai keperluan.
1. O salutaris (hostia)
2. Adoro te (devote). Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 560, Allah yang Tersamar.
3. Tantum Ergo. Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 501, Mari Kita Memadahkan (bait 5 dan 6).
4. Mazmur 116 (117), Laudate.
5. Parce Domine.
6. Da pacem.
7. Ubi caritas (est vera). Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 498, Jika ada Cinta Kasih.
8. Veni Creator (Spiritus). Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 567, Ya Roh Pencipta, Datanglah.
9. Regina Caeli. Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 624.
10. Salve Regina. Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 623.
11. Ave Maris Stella.
12. Magnificat.
13. Tu es Petrus.
14. Te Deum (laudamus). Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 669.
Buku nyanyian Jubilate Deo bisa diunduh di beberapa situs, salah satunya di sini: Jubilate Deo (1974)
Buku Jubilate Deo berisi repertoir Gregorian minimum yang diharapkan dikuasai oleh umat Katolik, sesuai harapan Bapa Suci Paulus VI, agar umat Katolik mengenal beberapa repertoir Gregorian Latin.
Buku kumpulan lagu ini dipersembahkan Gereja kepada umat Katolik sebagai hadiah khusus dari Bapa Suci, mewujudkan amanat Konsili Vatikan II, yang dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci no. 54, mengatakan: "Tetapi hendaknya diusahakan, supaya kaum beriman dapat bersama-sama mengucapkan atau menyayikan dalam bahasa latin juga bagian-bagian Misa yang tetap yang menyangkut mereka."
Walaupun nyanyian dalam bahasa setempat baik dan didukung, namun "repertoir minimum nyanyian Gregorian ini disiapkan dengan satu tujuan: agar umat Kristen lebih dimudahkan untuk mencapai kesatuan dan harmoni spiritual dengan saudara-saudara mereka dan dengan tradisi hidup masa lalu. Karena itu mereka yang berusaha meningkatan kualitas nyanyian kongregasional (red: dinyanyikan bersama seluruh umat) tidak boleh menolak memberikan tempat yang selayaknya diduduki nyanyian Gregorian." (Voluntati Obsequens)
Dan untuk mendukung amanat ini, Kongregasi Ibadat Suci membuat buku Jubilate Deo gratis untuk direproduksi dan dikopi.
Nyanyian apa saja yang ada di dalam buku tersebut?
Buku tersebut dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama, Cantus Missae, berisi nyanyian-nyanyian yang umum dalam Misa. Terdiri dari:
1. Kyrie XVI
2. Gloria VIII (De Angelis). Terdapat juga dalam Puji Syukur 343
3. Nyanyian tanggapan bacaan I dan II: Verbum Domini - Deo gratias (Demikianlah sabda Tuhan - Syukur kepada Allah)
4. Dua Alleluya sederhana
5. Pengantar bacaan Injil: Dominus vobiscum - Et cum spiritu tuo- Lectio sancti Evangelii secundum N. - Gloria tibi Domine (Tuhan bersamamu - Dan bersama rohmu - Inilah Injil Yesus Kristus menurut N. - Dimuliakanlah Tuhan)
6. Nyanyian tanggapan Injil: Verbum Domini - Laus tibi Christe (Demikianlah sabda Tuhan - Terpujilah Kristus)
7. Credo III. Terdapat juga dalam Puji Syukur 374.
8. Tanggapan terhadap intensi doa umat: Te rogamus, audi nos (kami mohon kepada-Mu, dengarkanlah kami).
9. Dialog pembuka Prefasi
10. Sanctus XVIII. Terdapat juga dalam Puji Syukur 388.
11. Anamnesis.
12. Doksologi penutup Doa Syukur Agung.
13. Bapa Kami. Terdapat juga dalam Puji Syukur 402.
14. Dialog ritus damai.
15. Agnus Dei XVIII. Terdapat juga dalam Puji Syukur 409.
16. Pembubaran umat.
Bagian kedua, Cantus Varii, berisi nyanyian-nyanyian Gregorian untuk berbagai keperluan.
1. O salutaris (hostia)
2. Adoro te (devote). Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 560, Allah yang Tersamar.
3. Tantum Ergo. Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 501, Mari Kita Memadahkan (bait 5 dan 6).
4. Mazmur 116 (117), Laudate.
5. Parce Domine.
6. Da pacem.
7. Ubi caritas (est vera). Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 498, Jika ada Cinta Kasih.
8. Veni Creator (Spiritus). Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 567, Ya Roh Pencipta, Datanglah.
9. Regina Caeli. Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 624.
10. Salve Regina. Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 623.
11. Ave Maris Stella.
12. Magnificat.
13. Tu es Petrus.
14. Te Deum (laudamus). Terdapat juga dalam Puji Syukur no. 669.
Buku nyanyian Jubilate Deo bisa diunduh di beberapa situs, salah satunya di sini: Jubilate Deo (1974)
Rabu, 03 November 2010
Lagu dalam Liturgi
Mungkin bagi yang ikut Retret Destination Confirmed 2010 kemarin, ada yang terkejut ketika mendengar Antifon Komuni dinyanyikan.
Ada juga yang menanyakan, apa sih itu? Apa bedanya dengan lagu yang biasa dinyanyikan saat Misa?
Mungkin agak mengejutkan tetapi karakteristik Liturgi Ekaristi Romawi sangat minim madah/lagu, tetapi kaya akan kutipan Mazmur yang dinyanyikan berwujud ulangan dan ayat.
Seperti juga doa pembukaan, doa persiapan persembahan dan doa penutup yang sudah baku untuk tiap hari sepanjang tahun, demikian juga sebenarnya nyanyian liturgis dalam Misa.
Untuk tiap hari, sudah dirumuskan teks nyanyian yang berupa kutipan Kitab Suci, yang sangat berkaitan dengan bacaan hari itu, yaitu: Introit (pembukaan), Graduale (antifon tanggapan) yang sepadan dengan Mazmur Tanggapan, Bait Pengantar Injil, Sekwensia (untuk hari raya tertentu), Offertorium (persiapan persembahan), dan Communio (komuni).
Dari kalimat pertama Introit, biasanya kita menamai Misa dalam tahun Liturgi. Misalnya, Minggu Gaudete pada Minggu III Adven, diambil dari kalimat pertama Introit Minggu III Adven: "Gaudete in Domino semper: iterum dico, gaudete...", yang artinya: Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, kukatakan sekali lagi bersukacitalah. Yang merupakan teks dari Filipi 4:4-5.
Pada pelaksanaan Misa extraordinaria, yang juga dirayakan oleh Gereja disamping Misa Paus Paulus VI yang biasa dirayakan dan kita kenal, bagian-bagian ini tidak boleh dilewatkan imam dan harus didoakan imam selain dinyanyikan umat/koor.
Nyanyian Liturgi sepanjang tahun ini diterbitkan sebagai buku yang disebut Graduale Romanum.
Namun karena sering kali ditemukan nada-nada kompleks yang sulit dinyanyikan koor/jemaat yang tidak punya paduan suara yang baik, diterbitkan juga Graduale Simplex, yaitu Nyanyian Gradual sederhana yang dapat dipakai sepanjang tahun.
Jika tidak dinyanyikan, untuk tiap perayaan Misa ada yang disebut Antifon (Pembukaan-Komuni), yang menurut ketentuan dibacakan oleh umat/imam. Karena teksnya untuk dibacakan, bisa sedikit berbeda dengan teks dari Graduale Romanum, namun umumnya teksnya sama. Misalnya, untuk Hari Raya Kristus Raja, baik Introit maupun Antifon Pembukaan diambil dari Why 5:12,1:6.
Lalu, mengapa sekarang sepertinya umat bahkan tidak tahu bahwa normatifnya nyanyian dalam Misa sebenarnya bagian dari Teks Liturgi yang sudah ditentukan?
Malahan timbul salah kaprah bahwa bagian-bagian dalam Misa yang biasa diisi lagu, merupakan selingan yang bisa diganti atau dipilih lagu sesuka hati. Misa perkawinan misalnya.
Ada beberapa sebab:
1. Terjadinya pengembangan Leksionari, yang tadinya berulang setiap setahun, menjadi 3 tahun (Tahun A, B, C). Ini diterbitkan lebih dulu selagi Graduale Romanum diekspansi menjadi masa liturgi 3 tahun. Akibatnya timbul kekosongan.
2. Undangan bagi para musisi untuk menelurkan lagu-lagu baru, ditambah panggilan untuk inkulturasi.
3. Kekacauan interpretasi untuk keterbukaan terhadap dunia atas nama "Semangat Konsili Vatikan II."
4. Penggunaan bahasa setempat.
5. Provisio dalam Pedoman Umum Misale Romawi, yang mengatakan:
....Nyanyian tersebut dapat berupa mazmur dengan antifonnya yang di ambil dari Graduale Romanum atau dari Graduale Simplex. Tetapi boleh juga digunakan nyanyian lain yang sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, asal teksnya disahkan oleh Konferensi Uskup. (Pedoman Umum Misale Romawi 48)
Provisio lagu lain ini utamanya ditujukan bagi Konferensi Waligereja untuk melakukan penterjemahan dan inkulturasi Graduale, dan memacu para pemusik untuk menghasilkan karya lagu liturgis, yang itupun harus disahkan oleh Konferensi Waligereja setempat untuk menjamin teks dan nada, sesuai dengan kaidah Liturgi.
Dalam kekosongan teks Graduale dalam bahasa lokal, bahasa Latin ditinggalkan sama sekali demi bahasa setempat (walaupun Pedoman Umum Misale Romawi mengatakan bahwa Nyanyian Gregorian dan bahasa Latin menempati tempat terhormat dan umat dihimbau untuk tidak sama sekali buta terhadap teks Latin yang umum), dan semangat menggebu-gebu untuk usaha inkulturisasi, kekosongan ini diisi oleh lagu-lagu yang awalnya eksperimentatif, tapi kemudian menjadi permanen karena kebiasaan. Sementara itu, Graduale tidak pernah diterjemahkan. Di Indonesia, yang sukses diinkulturisasikan barulah Mazmur Tanggapan.
Dari sini timbul pemikiran bahwa semua lagu boleh digunakan.
Di sini perlu diperhatikan bahwa tidak semua lagu rohani adalah lagu Liturgis.
Mudahnya, nyanyian/lagu Liturgis adalah doa-doa Liturgi/Ibadat yang dinyanyikan, dan mengindahkan peraturan-peraturan menurut Tradisi dan Tertib Gerejawi.
Lagu liturgis adalah lagu rohani yang khusus. Dan adalah tugas Konferensi Waligereja untuk memastikan bahwa hanya lagu dan teks liturgis yang diperbolehkan untuk perayaan Liturgi.
Namun kecenderungan umat sekarang ini, adalah memasukkan lagu-lagu rohani apapun, bahkan lagu-lagu non-rohani ke dalam perayaan Liturgi. Padahal ini secara langsung bertentangan dengan tertib Gerejani (lihat Konstitusi tentang Musik di dalam Liturgi, Musicam Sacram).
Atas berbagai pertimbangan ini, saya mengusahakan untuk menggunakan kesempatan diberi tanggung jawab membantu jalannya perayaan Ekaristi dengan berusaha menggunakan pilihan lagu liturgis yang ada, dan menggunakan teks dari Antifon yang diseting ke dalam nada Mazmur dari Graduale Romanum (menggunakan nada yang lebih sederhana).
Penggunaan lagu-lagu yang biasa digunakan dalam Persekutuan Doa, saya batasi di luar perayaan Ekaristi (sebagai conditioning sebelum Misa dan pada akhir Misa). Penggunaan dalam Ekaristi sendiri saya batasi sebagai pilihan terakhir, itupun saya batasi lagi dari buku Kidung Syukur yang setidaknya mendapat persetujuan eksperimental dari KAJ.
Bukannya saya anti dengan lagu-lagu rohani populer, tetapi saya berusaha bertanggungjawab menempatkannya di tempat yang tepat berbekal informasi yang saya miliki.
Yang kedua karena saya melihat adanya potensi bahwa ini bisa dilakukan, baik oleh para singer dan pemusik, dan dukungan dari Romo Deshi dan Riko.
Semoga perayaan Ekaristi yang kita rayakan, justru menjadi sekolah yang membentuk kita, dan membuat kita lebih peka mendengarkan Firman Tuhan lewat Nyanyian Liturgis yang hampir semuanya adalah kutipan-kutipan Kitab Suci yang dinyanyikan.
Ada juga yang menanyakan, apa sih itu? Apa bedanya dengan lagu yang biasa dinyanyikan saat Misa?
Mungkin agak mengejutkan tetapi karakteristik Liturgi Ekaristi Romawi sangat minim madah/lagu, tetapi kaya akan kutipan Mazmur yang dinyanyikan berwujud ulangan dan ayat.
Seperti juga doa pembukaan, doa persiapan persembahan dan doa penutup yang sudah baku untuk tiap hari sepanjang tahun, demikian juga sebenarnya nyanyian liturgis dalam Misa.
Untuk tiap hari, sudah dirumuskan teks nyanyian yang berupa kutipan Kitab Suci, yang sangat berkaitan dengan bacaan hari itu, yaitu: Introit (pembukaan), Graduale (antifon tanggapan) yang sepadan dengan Mazmur Tanggapan, Bait Pengantar Injil, Sekwensia (untuk hari raya tertentu), Offertorium (persiapan persembahan), dan Communio (komuni).
Dari kalimat pertama Introit, biasanya kita menamai Misa dalam tahun Liturgi. Misalnya, Minggu Gaudete pada Minggu III Adven, diambil dari kalimat pertama Introit Minggu III Adven: "Gaudete in Domino semper: iterum dico, gaudete...", yang artinya: Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, kukatakan sekali lagi bersukacitalah. Yang merupakan teks dari Filipi 4:4-5.
Pada pelaksanaan Misa extraordinaria, yang juga dirayakan oleh Gereja disamping Misa Paus Paulus VI yang biasa dirayakan dan kita kenal, bagian-bagian ini tidak boleh dilewatkan imam dan harus didoakan imam selain dinyanyikan umat/koor.
Nyanyian Liturgi sepanjang tahun ini diterbitkan sebagai buku yang disebut Graduale Romanum.
Namun karena sering kali ditemukan nada-nada kompleks yang sulit dinyanyikan koor/jemaat yang tidak punya paduan suara yang baik, diterbitkan juga Graduale Simplex, yaitu Nyanyian Gradual sederhana yang dapat dipakai sepanjang tahun.
Jika tidak dinyanyikan, untuk tiap perayaan Misa ada yang disebut Antifon (Pembukaan-Komuni), yang menurut ketentuan dibacakan oleh umat/imam. Karena teksnya untuk dibacakan, bisa sedikit berbeda dengan teks dari Graduale Romanum, namun umumnya teksnya sama. Misalnya, untuk Hari Raya Kristus Raja, baik Introit maupun Antifon Pembukaan diambil dari Why 5:12,1:6.
Lalu, mengapa sekarang sepertinya umat bahkan tidak tahu bahwa normatifnya nyanyian dalam Misa sebenarnya bagian dari Teks Liturgi yang sudah ditentukan?
Malahan timbul salah kaprah bahwa bagian-bagian dalam Misa yang biasa diisi lagu, merupakan selingan yang bisa diganti atau dipilih lagu sesuka hati. Misa perkawinan misalnya.
Ada beberapa sebab:
1. Terjadinya pengembangan Leksionari, yang tadinya berulang setiap setahun, menjadi 3 tahun (Tahun A, B, C). Ini diterbitkan lebih dulu selagi Graduale Romanum diekspansi menjadi masa liturgi 3 tahun. Akibatnya timbul kekosongan.
2. Undangan bagi para musisi untuk menelurkan lagu-lagu baru, ditambah panggilan untuk inkulturasi.
3. Kekacauan interpretasi untuk keterbukaan terhadap dunia atas nama "Semangat Konsili Vatikan II."
4. Penggunaan bahasa setempat.
5. Provisio dalam Pedoman Umum Misale Romawi, yang mengatakan:
....Nyanyian tersebut dapat berupa mazmur dengan antifonnya yang di ambil dari Graduale Romanum atau dari Graduale Simplex. Tetapi boleh juga digunakan nyanyian lain yang sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, asal teksnya disahkan oleh Konferensi Uskup. (Pedoman Umum Misale Romawi 48)
Provisio lagu lain ini utamanya ditujukan bagi Konferensi Waligereja untuk melakukan penterjemahan dan inkulturasi Graduale, dan memacu para pemusik untuk menghasilkan karya lagu liturgis, yang itupun harus disahkan oleh Konferensi Waligereja setempat untuk menjamin teks dan nada, sesuai dengan kaidah Liturgi.
Dalam kekosongan teks Graduale dalam bahasa lokal, bahasa Latin ditinggalkan sama sekali demi bahasa setempat (walaupun Pedoman Umum Misale Romawi mengatakan bahwa Nyanyian Gregorian dan bahasa Latin menempati tempat terhormat dan umat dihimbau untuk tidak sama sekali buta terhadap teks Latin yang umum), dan semangat menggebu-gebu untuk usaha inkulturisasi, kekosongan ini diisi oleh lagu-lagu yang awalnya eksperimentatif, tapi kemudian menjadi permanen karena kebiasaan. Sementara itu, Graduale tidak pernah diterjemahkan. Di Indonesia, yang sukses diinkulturisasikan barulah Mazmur Tanggapan.
Dari sini timbul pemikiran bahwa semua lagu boleh digunakan.
Di sini perlu diperhatikan bahwa tidak semua lagu rohani adalah lagu Liturgis.
Mudahnya, nyanyian/lagu Liturgis adalah doa-doa Liturgi/Ibadat yang dinyanyikan, dan mengindahkan peraturan-peraturan menurut Tradisi dan Tertib Gerejawi.
Lagu liturgis adalah lagu rohani yang khusus. Dan adalah tugas Konferensi Waligereja untuk memastikan bahwa hanya lagu dan teks liturgis yang diperbolehkan untuk perayaan Liturgi.
Namun kecenderungan umat sekarang ini, adalah memasukkan lagu-lagu rohani apapun, bahkan lagu-lagu non-rohani ke dalam perayaan Liturgi. Padahal ini secara langsung bertentangan dengan tertib Gerejani (lihat Konstitusi tentang Musik di dalam Liturgi, Musicam Sacram).
Atas berbagai pertimbangan ini, saya mengusahakan untuk menggunakan kesempatan diberi tanggung jawab membantu jalannya perayaan Ekaristi dengan berusaha menggunakan pilihan lagu liturgis yang ada, dan menggunakan teks dari Antifon yang diseting ke dalam nada Mazmur dari Graduale Romanum (menggunakan nada yang lebih sederhana).
Penggunaan lagu-lagu yang biasa digunakan dalam Persekutuan Doa, saya batasi di luar perayaan Ekaristi (sebagai conditioning sebelum Misa dan pada akhir Misa). Penggunaan dalam Ekaristi sendiri saya batasi sebagai pilihan terakhir, itupun saya batasi lagi dari buku Kidung Syukur yang setidaknya mendapat persetujuan eksperimental dari KAJ.
Bukannya saya anti dengan lagu-lagu rohani populer, tetapi saya berusaha bertanggungjawab menempatkannya di tempat yang tepat berbekal informasi yang saya miliki.
Yang kedua karena saya melihat adanya potensi bahwa ini bisa dilakukan, baik oleh para singer dan pemusik, dan dukungan dari Romo Deshi dan Riko.
Semoga perayaan Ekaristi yang kita rayakan, justru menjadi sekolah yang membentuk kita, dan membuat kita lebih peka mendengarkan Firman Tuhan lewat Nyanyian Liturgis yang hampir semuanya adalah kutipan-kutipan Kitab Suci yang dinyanyikan.
Langganan:
Postingan (Atom)