Rabu, 15 Desember 2010

Bagaimana Forma Extraordinaria Memperkaya Forma Ordinaria - Uskup Pascal N'Koué

Bagaimana forma extraordinaria membantu kita merayakan forma ordinaria dengan lebih baik? Berikut beberapa point:

1) Reevaluasi Misa sebagai korban (Liturgi Ekaristi, bagian kedua dari Misa). Selebran dan koor harus hilang dihadapan Tuhan, menghilangkan kreatifitas berlebihan yang menarik perhatian manusia. Ekaristi adalah Kristus yang mempersembahkan diriNya kepada Bapa. Pada puncak perayaan dalam tahun liturgi, seperti Adven dan Prapaskah, mengapa tidak kita rayakan dengan kembali berfokus, menghadap Salib, versus dominum, atau ad orientem. Ini mendorong rekoleksi, memusatkan perhatian kita pada misteri Salib yang sekarang mengarahkan kehidupan setiap murid Kristus. Sejujurnya, rubik perayaan (forma ordinaria) menyatakan bahwa posisi liturgi Ekaristi (bagian kedua dari Misa) tidak saling berhadapan.

komentar: dalam buku TPE ada bagian-bagian khusus, seperti ketika memberi salam kepada umat, dimana imam diminta secara spesifik menghadap umat. Pada bagian-bagian lain, dan utamanya bagian Liturgi Ekaristi, rubik berforkus pada imam berhadapan dengan Altar dan Tubuh dan Darah Tuhan. Walau pun dalam Misa dimana imam menghadap umat ("versus populum"), fokus liturgi pada bagian itu bukanlah umat.

2) Memberi lebih banyak ruang untuk bahasa Latin dalam perayaan. Ingat bahwa nyanyian Gregorian adalah nyanyian proper liturgi Romawi. Nyanyian yang hanya menggugah indera akan sangat berguna jika dirombak supaya layak disebut musik liturgi. Mari kita hindari kebisingan alat-alat musik, lirik yang kering dan irama yang terlalu profan dalam liturgi kita.

3) Jangan meletakkan kursi selebran di depan Altar. Liturgi bukan tempat untuk pagelaran.

Bagi para Imam:

4) Beri Komuni dengan membuat tanda salib dengan Hosti. Dapat diterima umat berdiri atau berlutut.

5) Persiapkan diri dalam keheningan sebelum Misa mulai, yang juga berarti imam yang datang terlambat jangan berkonselebrasi ketika Misa sudah mulai.

6) Kembalikan kehendingan yang suci dalam perayaan, seperti misalnya tidak menyanyikan refren lagu sewaktu Tubuh dan Darah Tuhan diunjukkan.

7) Gunakan Doa Syukur Agung I pada hari Minggu atau Hari Raya. DSA I lebih agung dan lebih "inkulturatif."



Teks lengkap bahasa Inggris (terjemahan New Liturgical Movement):

Specifically, how the extraordinary form may help us to better celebrate the ordinary form? Here are some points:

1) Revaluate the sacrificial moment or second part of the Mass. The celebrant and choir should disappear before God, eliminating the fabricated and pernicious creativities that draw the eyes on man. The Eucharist is Christ who offers Himself to His Father. During the climaxes of the liturgical year such as Advent and Lent, why not celebrate all turned towards the Cross, "versus Dominum," or "ad orientem". This encourages recollection, draws our attention to the mystery of the Cross (our East), which now orients every life of a disciple of Christ. Truth be told, the rubrics prescribee that the position for the sacrificial part of the Mass be not face to face.

2) Give a little more room to Latin in our celebrations. Remember that Gregorian chant is the singing proper to the Roman liturgy. The songs which are just good to stir our senses would benefit from being reworked in order to deserve to be called sacred music. Let us avoid the din of musical instruments, the banality of lyrics and the shallowness of beats too profane in our liturgies.

3) Do not put the seats of celebrants before the altar of the Holy Sacrifice anymore. The liturgy is not a place for exhibition.

For Priests:

4) Give Holy Communion, making the sign of the cross with the consecrated Host. The faithful may receive it standing or kneeling.

5) In silence, prepare before the start of the Mass; which presupposes the non-concelebration of priests who are late, when Mass has already begun.

6) Reintroduce sacred silence in our celebrations, for example by suppressing the refrains sung at the elevation of the Body and Blood of Christ.

7) Use the Roman Canon or Eucharistic Prayer No. 1 on Sundays or Holy Days. It is more solemn and more "inculturated".



Referensi: An African Bishop on Summorum Pontificum, Mutual Enrichment, and the Reform of the Reform
Teks asli dalam bahasa Perancis: Réforme de la réforme : les propositions de Mgr N’Koué

Tidak ada komentar:

Posting Komentar