Tampilkan postingan dengan label Devosi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Devosi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

Treasuring Womanhood - Renungan Harian Wanita 2013



TW2013: BERJIARAH BERSAMA MARIA

Dalam pemahaman kebijaksanaan orang Jawa, jiarah berarti siji sing diarah, atau satu yang dituju, yaitu Allah. Pemahaman ini menjadi bernilai kristiani ketika Allah yang dipahami adalah Allah Mahacinta. Selain itu, dipahami pula bahwa dalam jiarah ada proses, ada pergumulan, ada jatuh bangun. Untuk itu, dibutuhkan panduan dan kekuatan. Dalam konteks pejiarahan hidup dan iman itu, kehadiran buku renungan ini akan sungguh berarti, yaitu menemani pejiarahan iman para pembacanya.
Pun, kiranya, sangat tepatlah dikatakan oleh para editor bahwa Treasuring Womanhood 2013 ini ‘dipersembahkan kepada Bunda Maria’, bukan hanya karena Maria adalah seorang perempuan, melainkan lebih karena Maria adalah Bunda dan teladan umat beriman. Secara implisit dikatakan bahwa pokok-pokok renungan yang ada di dalam buku ini bisa mengajak kaum perempuan menjadi seperti Maria, yang “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk 2: 19).
(Al. Andang L. Binawan, SJ – Vikep KAJ, tentang Treasuring Womanhood 2013)

Miliki segera...!
TREASURING WOMANHOOD 2013
  • Renungan Harian Wanita, berdasarkan Kalender Liturgi 2013
  • Ditulis oleh 13 wanita dari berbagai latar belakang: dokter, guru, wanita karier, wirausaha, mahasiswi, pewarta, single, ibu rumah tangga, selibat.
  • Tepat dijadikan sebagai hadiah Natal bagi ibu/adik/kakak/sahabat/teman/ relasi Anda.
  • Diterbitkan ke-empat kalinya oleh Domus Cordis (kali ini di bawah bendera FLAMMA Publishing)
Harga @Rp.55.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Pemesanan hubungi:
Amy: 0818 980636 / Amy_jobs@yahoo.com
Cherry: 0812 63793258 / Cherry.cj12@yahoo.com
Domus Cordis Center: 021-4585 3444 (jam kerja) / literature@domuscordis.org

Kamis, 30 Agustus 2012

Seberapa Serius Persiapan Liturgi Kita?


Gereja mengatakan bahwa kehidupan liturgis adalah "puncak" tetapi Katekismus Gereja Katolik 1072 juga mengatakan bahwa "iturgi kudus tidak mencakup seluruh kegiatan Gereja." Dengan kata lain, itu saja tidak cukup. Supaya berbuah, supaya sungguh-sungguh bisa menjadi puncak, diperlukan "penginjilan, iman dan pertobatan harus mendahuluinya."

Di sinilah fungsi devosi, komunitas, pengajaran, sharing, kehidupan rohani, doa harian, dsb menjadi penting.

Penting bagi kita untuk sangat paham dan fasih mengikuti apa yang baku.
Kebanyakan dari kita, jarang sekali mengikuti perayaan liturgis yang mengikuti norma-norma yang sudah ada.
Lebih sedikit lagi yang tahu apa saja norma-normanya. Lebih sedikit lagi yang paham sejarah dan alasanya.

Ibaratnya seorang dokter, harus paham benar prosedur yang baku dan mendasar dalam melakukan diagnosa. Kalau ada mahasiswa kedokteran tingkat 1 yang sudah mulai memberi resep dan memeriksa, apa jadinya?

Penting untuk bisa melaksanakan dengan baik dan benar apa yang mendasar, mempelajari, memahami, mengkaderkan dengan serius.

Bagi orang yang hidup dalam komunitas yang sangat dekat dengan kehidupan liturgis, dan bahkan menyelenggarakan dan mengadakannya bukan cuma untuk komunitas, tetapi juga keluar, sangat penting untuk tidak terjebak dalam sebuah "lingkaran setan."

Lingkaran setan yang dimaksud adalah adaptasi dan eksperimentasi tanpa pengalaman dan pengetahuan mendasar yang kuat. Akibatnya ini menjadi kebiasaan, dan terus dilakukan. Yang baku menjadi momok yang menakutkan tanpa pernah dilakukan dengan baik, "profesional" kata orang. Dan kita puas dengan apa yang tidak ideal, tapi menolak segala gerakan untuk bergerak ke arah yang lebih ideal. "Terlalu repot, susah, butuh latihan banyak, gak ada waktu."

Contoh pastoral kebablasan seperti itu misalnya saja, penggunaan Syahadat Panjang dalam Misa. Berapa banyak umat, ambil saja Jakarta, yang parokinya menggunakan Syahadat Panjang secara reguler?

Alasan pastor paroki, "karena umat tidak terbiasa." Jadi digunakanlah Syahadat Para Rasul terus. Dalam jangka panjang, umat bukan hanya tidak terbiasa, tapi "lupa ingatan" ada Syahadat Panjang, bahkan resisten.
Kalau digunakan, ngomel, "kan gak hapal, gak biasa, aneh ah."
Ya, gak pernah dibiasakan kapan akan terbiasa?

Apa yang harusnya menjadi kekayaan doa bagi umat, hak umat, malah akibatnya tidak pernah sampai ke umat.

Bicara jujur saja, Puji Syukur setebal itu, tiap minggu koor cuma nyanyi lagu yang mana? Bisa ditebak. Kemudian muncul komplain, "bosan." Tapi kalau latihan lagu baru "susah, gak bisa, gak pernah dipakai." Muncul berbagai terbitan lagu-lagu baru, Madah Bakti edisi tahun 2000, Cantate Domino, dsb. Berapa banyak yang pakai? Berapa banyak yang latih?

Ini saya rasa berlaku juga untuk komunitas, baik dalam pelayanan ke dalam dan keluar.
Dalam pelayanan ke dalam, apa terjebak dengan resistensi untuk latihan lagu liturgi? Biasanya mempersiapkan diri untuk PD, KRK jauh lebih serius daripada Misa. Misa sudah jadi rutinitas, h-1 kelabakan, lagu pakai aja yang sudah pada bisa, yang penting ada lagu.
Tapi luar biasa usaha kita untuk "up to date" lagu-lagu populer terbaru, bahkan mempelajarinya untuk sel.

Pelayanan ke luar, apa menjadi batu sandungan bagi umat lain? Misa komunitas kami hanya yang model begini, sehingga misa dengan mengikuti kaidah yang berlaku seolah haram dan meredupkan cahaya komunitas. Kita tidak memberikan pengalaman berliturgi yang baik ke luar, tapi di dalam juga tidak bisa karena ada resistensi.

Pelayanan ke luar harus menjadi buah dari formasi dalam komunitas. Kita tidak bisa memberi ke orang lain pengalaman otentik berliturgi, mengajar mereka, membuat mereka terkagum akan kedalaman misteri dalam liturgi, akan kebesaran makna dan konsekwensi liturgi, kalau ke dalam kita sendiri tidak memiliki itu semua.

Jika kita terbiasa dengan liturgi yang suam, pelayanan kita tidak lebih dari menyajikan liturgi yang suam. Jika kita tidak memahami nilai dan misteri liturgi, kita tidak bisa membuka mata orang lain kepada nilai dan misteri liturgi. Jika kita memilih hanya menikmati satu aspek dari liturgi, kesembuhan misalnya, tapi tidak berusaha masuk ke aspek lainnya, penghakiman misalnya, kita juga menyajikan parsial kepada orang lain. Jika kita tidak membiasakan diri untuk berliturgi dengan serius, orang akan melihat dari penampilan, sikap, gerak-gerik, pembawaan kita.

Dalam keadaan stagnat seperti ini, justru dalam komunitas, dimana formasi bisa berjalan, hal-hal seperti ini lebih bisa diperbaiki. Karena apa yang digodok di dalam, itulah yang kita bawa keluar.

Dari Pilihan Lagu menuju Makna Terdalam Liturgi


Semua lagu liturgi adalah lagu rohani. Tapi tidak semua lagu rohani adalah lagu liturgi. Sementara itu, lagu-lagu untuk perayaan liturgi, aturannya hanya menggunakan lagu-lagu liturgi.

Lagu liturgi itu apa cirinya? Pertama-tama, paling sederhananya, lagu liturgi adalah teks liturgi yang dinyanyikan.

Teks liturgi dibuat sangat hati-hati atau secara historis memiliki muatan teologis. Jadi bukan sekedar indah. Karena liturgi memiliki 2 tujuan: mengajar sekaligus menyembah Allah.

Analoginya adalah Mazmur dan madah-madah Kitab Suci. Mendaraskan madah-madah ini tidak lain dan tidak bukan memuji Allah sendiri dengan teks yang diinspirasi oleh Roh Kudus. Tapi pada saat bersamaan, mendaraskan/menyanyikan teks ini berarti juga membiarkan Allah bicara dan mengajar kita melalui teks-teks ini.

Pada saat bersamaan, teks liturgi yang disusun Gereja, didsaraskan para kudus dari zaman ke zaman, bertahan melalui berbagai rintangan penindasan dan kesesatan, merupakan karya Roh Kudus dalam Gereja, dan mendaraskan/menyanyikannya kita memuji Allah bersama seluruh Gereja. Tapi pada saat bersamaan, teks ini memiliki muatan dogmatis yang kuat, yang bertujuan mengajar umat beriman akan iman yang benar.

Karena itu, aturan liturgi, misalnya dalam Pedoman Umum Misale Romawi, melarang teks ini diganti dengan apapun. Gereja lebih memilih teks ini didaraskan daripada diganti lagu lain.

Kalau dilagukan, maka musik menjadi hamba teks. Teks harus utuh, musik harus mendukung keindahannya. Tapi mengubah teks demi disesuaikan dengan lagu, dilarang.

Karena itu dalam terang Pedoman Umum Misale Romawi terbaru dan Redemptoris Sacramentum dari Tahta Suci, lagu-lagu liturgis, bahkan yang ada dalam Puji Syukur tidak semuanya bisa dipakai. Lagu yang teksnya mengubah teks liturgis yang ada dalam Misale tidak bisa dipakai.

Semua itu bisa dipakai di luar konteks Misa. Misalnya ibadat sabda, ibadat-ibadat lingkungan dsbnya.

Lagu-lagu rohani kontemporer, pada definisinya termasuk lagu-lagu rohani devosional. Devosi bisa lebih bersifat personal, lebih "ngangkat", lebih "manis," "menyenangkan" dan "hangat." Tetapi devosi dan liturgi, walaupun saling mendukung, memiliki tempat dan porsinya masing-masing.
Selalu ada tempat bagi devosi di luar Liturgi. Namun tujuan akhir devosi harus selalu menjadi persiapan untuk masuk ke dalam liturgi dengan lebih matang, kuat dan dalam.

Yang jadi problem adalah ketika devosi mulai mengerosi liturgi. Ketika ini dilakukan dalam jangka panjang, masalah terjadi.
Liturgi yang merupakan puncak kehidupan rohani menjadi dipahami dengan dangkal.
Sentimen devosional menjadi sesuatu yang dicari, sementara misteri dalam liturgi menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa dipahami.
Lingkaran setan pun dimulai, liturgi mulai dirombak untuk berbagai sentimen devosional.

Ditambah lagi dalam situasi umat sekarang, dimana Misa bisa jadi menjadi satu-satunya saat beribadah bagi banyak orang, semua sentimen devosional itu hendak dijejalkan ke dalam liturgi. Satu jam seminggu, kita jejalkan segala hal yang harusnya dibangun perlahan dalam kehidupan rohani sehari-hari, ke dalam liturgi.

Akhirnya bisa ditebak. Liturgi gagal menjadi puncak kehidupan rohani. Sentimen devosional bertabrakan dengan maksud liturgi dan terasa "canggung." Akhirnya tetap saja umat lari ke "seberang sungai." Liturgi pada akhirnya tetap jadi kambing hitam sebagai "oknum jahat" yang perlu direnovasi.

Kalau pake istilah Paulus, ada saatnya kita makan makanan yang ringan, manis, enak, dingin macam devosi-devosi. Tapi makanan yang keras, kita perlukan juga. Dan harus diakui, liturgi itu keras, disiplin, dan kontennya tidak senantiasa "manis" didengar.

Itu sebabnya, katekese liturgi sangat penting. Liturgi bagi Gereja adalah warisan dan tugas mulia untuk dijalankan. Liturgi adalah "Opus Dei" yang dipercayakan Allah kepada Gereja untuk menguduskan dunia dan sejarah. Liturgi adalah partisipasi nyata Gereja dalam Liturgi Ilahi yang dilaksanakan Kristus sendiri dalam Bait Allah Surgawi.

Sedemikian dalamnya, beratnya, mulianya dan besarnya kehormatan yang diterima Gereja untuk melaksanakan Liturgi, yang mampu mengangkat dunia ke surga, sehingga tanpanya Gereja tidak lebih dari sekumpulan organisasi sosial tanpa kuasa surgawi.

Devosi memupuk hubungan pribadi kita dengan Allah.
Tapi liturgi adalah mobilisasi umat Allah menggerakkan sejarah dan menguduskan dunia.

Teologi dibalik masing-masing harus dipahami untuk mendapat perspektif pastoral yang tepat.